Loading color scheme

Seperti Apa Fungsi Puskesmas dalam Menghadapi Pandemi COVID-19?

Puskesmas memiliki fungsi penting pada masa pandemi COVID-19. Selain sebagai pusat kesehatan, mereka juga berfungsi mencegah penyebaran virus. (Sumber gambar: tempo.co)

Dalam waktu kurang dari dua minggu pasca kasus pertama diumumkan, pemerintah Indonesia langsung menetapkan COVID-19 sebagai bencana nasional. Sayangnya, peraturan teknis yang berisi langkah-langkah pencegahan penularannya baru terbentuk beberapa minggu kemudian. Rangkaian peraturan itupun kerap bertabrakan dengan pernyataan kementerian ataupun lembaga negara lain.  Ketidaktegasan pemerintah dalam merumuskan kebijakan berakibat pada meluasnya andemi COVID-19. Hingga 17 Juni 2020 tidak ada satu provinsi pun di Indonesia yang tidak memiliki kasus COVID-19. Sebab pandemi adalah sebuah situasi krisis, dibutuhkan tindakan preventif yang sigap dan berakar dari komunitas untuk membendungnya. Puskesmas dalam hal ini adalah bentuk pelayanan kesehatan publik yang mampu memfasilitasi upaya preventif tersebut. 

Fungsi Puskesmas 

Kesehatan adalah hak fundamental warga negara dan setiap negara diwajibkan untuk memenuhinya. Oleh sebab itu, setiap negara membangun sistem kesehatan masing-masing dengan klasterisasi berdasarkan tingkat kebutuhan masyarakat. Dalam sistem kesehatan itu, puskesmas termasuk dalam klaster pelayanan kesehatan primer. Puskesmas memiliki peran inti sebagai kontak pertama masyarakat dengan fasilitas kesehatan negara. Pada periode normal, puskesmas berfokus melakukan tindakan promotif dan preventif. Namun, dalam kondisi wabah ia memiliki mandat yang berkali-kali lipat lebih berat. 

Kementerian Kesehatan mencatat hingga akhir tahun 2019 terdapat setidaknya 10.314 puskesmas di Indonesia. Pada periode wabah, puskesmas dengan jumlah tersebut perlu meredam laju penyebaran kasus dengan melaksanakan upaya prevensi, deteksi, dan respon. Ketiga upaya tersebut, menurut Kemenkes, adalah fungsi utama puskesmas pada masa pandemi. Melalui upaya pencegahan kasus, puskesmas dituntut untuk memastikan terbangunnya kebiasaan hidup sehat masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui penyebarluasan materi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang mudah dimengerti masyarakat umum. Di samping itu, puskesmas juga dituntut melakukan pemantauan tempat umum dengan tokoh masyarakat setempat.

Di sisi lain, upaya deteksi menampilkan fungsi teknis puskesmas. Puskesmas dituntut melakukan pelacakan kasus di suatu wilayah untuk mendukung upaya kekarantinaan, baik di tingkat wilayah maupun individu. Umumnya, upaya pelacakan dan pencatatan kasus ini disebut sebagai surveilans. Jenis-jenis tindakan surveilans merentang dari pembentukan sistem kewaspadaan dini dan respon, pemantauan riwayat perjalanan individu, penguatan jaringan kerja surveilans lintas sektor, dan penyelidikan kontak dekat kasus. 

Pada upaya respon, puskesmas berperan sebagai pengumpul informasi untuk melakukan tindakan kesehatan lebih lanjut. Adapun, upaya respon dilakukan melalui notifikasi kasus 1X24 jam, melakukan penyelidikan epidemiologi dengan dinas kesehatan, melakukan pemantauan kesehatan PDP ringan, ODP, dan OTG melalui formulir sesuai Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19, dan tugas-tugas penyelidikan lainnya. Di samping pelaksanaan ketiga upaya tersebut, di masa pandemi puskesmas tetap diwajibkan untuk memberikan pelayanan kesehatan lain, seperti pelayanan kesehatan jiwa dan pencegahan serta pengendalian penyakit menular lainnya. 

Tantangan

Kehadiran puskesmas di masa pandemi sangatlah sentral. Kehadiran mereka di suatu wilayah adalah bentuk kehadiran negara dalam menghadapi wabah. Meski begitu, puskesmas masih mengalami tantangan untuk melaksanakan peran mereka secara optimal. Dari luasnya fungsi dan cakupan tugas ketika pandemi, sangat jelas bahwa puskesmas membutuhkan dukungan lebih dari negara. Upaya prevensi, deteksi, dan respon baru bisa berjalan ketika puskesmas terfasilitasi oleh keberadaan alat pelindung diri (APD) yang cukup, tenaga kesehatan profesional, dan pengetahuan komprehensif tentang pandemi COVID-19. 

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hal-hal tersebut belum utuh terpenuhi. Dalam kondisi pandemi kekurangan dukungan komponen kesehatan tidak hanya menyebabkan upaya pencegahan wabah berjalan lambat, tetapi juga mengancam nyawa tenaga kesehatan itu sendiri. Itu sebabnya, sudah saatnya menyadari bahwa kemitraan multi-sektor antara pemerintah dengan pihak swasta ataupun organisasi masyarakat sipil (OMS) dibutuhkan pada periode pandemi. Baik pihak swasta maupun OMS telah menunjukkan beragam dukungan kepada puskesmas melalui distribusi informasi hingga donasi APD.

Periode pandemi perlu menjadi titik balik untuk menguatkan puskesmas. Sebab, puskesmas yang kuat akan menopang sistem kesehatan yang kokoh pula. Dan sistem yang kokoh tidak akan goyah meskipun diterjang keras oleh badai pandemi berulang-ulang kali.  


Sumber: 

Petunjuk Teknis Pelayanan Puskesmas pada Masa Pandemi COVID-19. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020

Nakes PDP Meninggal, Puluhan Karyawan di Demak Di-rapid Testhttps://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5045141/1-nakes-pdp-meninggal-puluhan-karyawan-puskesmas-di-demak-di-rapid-test.  8 Juni 2020

The Republic of Indonesia Health System ReviewHealth System in Transition Vol. 7 No.1 2017, World Health Organization. 2017 


Penulis:

Amru Sebayang