Loading color scheme

Godam dan Tarian: Apakah Sudah Saatnya Menerapkan Kenormalan Baru?

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk memasuki fase kenormalan baru. Imbauan ini mulai diterapkan perlahan-lahan oleh beberapa pemerintah daerah. (Sumber gambar: Antara)

Seperti diketahui bersama, agenda new normal atau kenormalan baru telah berjalan. Per 10 Juni 2020, fasilitas publik secara perlahan mulai beroperasi kembali, pegawai-pegawai mulai bekerja di kantor, pusat perbelanjaan dibuka secara bertahap, dan jalanan Jakarta mulai menunjukkan kepadatan. Perlu diketahui bahwa pada Senin, 21 Juni 2020, terdapat 954 kasus harian COVID-19 baru. Pada Kamis, 18 Juni 2020, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melaporkan 1.331 kasus harian baru. Total jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 menjadi 46.845 kasus. Meski Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah diterapkan sejak April hingga Juni 2020, masyarakat tetap perlu mewaspadai penyebaran COVID-19 sebab hasilnya belum memuaskan. Pertanyaannya, apakah untuk melawan wabah kita perlu bergantung pada kebijakan pembatasan sosial semata? Sebuah catatan dari pemikir statistik mendedahnya dengan baik.

Pada awal Maret 2020, Tomás Pueyo, Wakil Presiden Course Hero, sebuah platform pembelajaran daring, memperingatkan masyarakat dunia untuk waspada terhadap ancaman COVID-19. Untuk menggambarkan situasi, ia lantas menggunakan peristilahan ‘godam’ dan ‘tarian’ (The Hammer and The Dance). Godam merupakan metafor kebijakan dan tindakan pencegahan yang tegas untuk menekan laju penyebaran wabah COVID-19, sementara tarian menggambarkan penyesuaian yang harus dilakukan masyarakat ketika hidup di tengah pandemi COVID-19, setidaknya hingga vaksin ditemukan. Strategi serupa godam dan tarian diterapkan di Tiongkok dalam menghadapi COVID-19. Mereka menetapkan periode waktu pembatasan sosial secara tegas. Ketika jumlah kasus menurun, mereka melonggarkan peraturan pembatasan sosial. Namun, beberapa bulan setelah penerapan strategi ini, Tiongkok menghadapi ancaman COVID-19 dengan dimulainya gelombang kedua penularan wabah, meski karantina wilayah sudah diterapkan, khususnya di kota ditemukannya COVID-19, Wuhan, dan kota sekitarnya sejak Januari hingga April 2020. Dengan jabaran yang baik dan asumsi yang masuk akal, seharusnya kebijakan ‘godam’ dan ‘tarian’ bisa menekan pandemi, namun mengapa Tiongkok justru mengalami masalah?

Prasyarat

Meskipun tidak akurat, tetapi sangat layak diduga, bahwa penerapan kebijakan godam dan tarian di Tiongkok lepas dari beberapa pakem prakondisi. Pueyo menjelaskan bahwa kondisi godam perlu ditopang pada upaya-upaya pencegahan virus, mulai dari urusan pembatasan sosial, pemantauan penambahan kasus positif yang simultan, hingga peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan. Di sisi lain, kondisi tarian ditopang oleh edukasi publik yang masif, penerapan penjagaan jarak yang baik, pelarangan berkumpul, hingga penerapan strategi kesehatan yang mumpuni oleh pelayanan kesehatan.

Tomas Pueyo mengilustrasikan situasi ‘godam’ dan ‘tarian’ yang ideal untuk menghentikan penyebaran COVID-19 hingga vaksin ditemukan (Sumber gambar: Medium Thomas Pueyo)

Pelajaran di Tiongkok menjadi catatan penting bagi pemerintah Indonesia yang tampaknya hendak menerapkan kebijakan ‘godam’ dan ‘tarian’ serupa. Dengan memasuki kenormalan baru, perlu dipahami beberapa syarat prakondisi sebelum mengetatkan atau melonggarkan aturan-aturan kesehatan. Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Iwan Ariawan, sebelumnya mensyaratkan tiga kondisi yang harus terpenuhi sebelum pemerintah dapat melonggarkan pembatasan sosial, yakni epidemiologi, kesehatan masyarakat, dan sistem kesehatan. Syarat epidemiologi berarti terjadi penurunan jumlah kasus atau kematian selama 14 hari berturut-turut. Sayangnya, WHO Indonesia mengeluarkan laporan situasi terakhir pada 17 Juni 2020 yang mencatat masih terjadi peningkatan kasus di beberapa daerah di Pulau Jawa. Meski Jawa Barat mencatat penurunan kasus lebih dari 50% dalam dalam 3 minggu terakhir, wilayah Jakarta masih mengalami puncak penambahan kasus harian tertinggi setidaknya hingga pecan kedua bulan Juni 2020.

Syarat kesehatan masyarakat, di sisi lain, menuntut kesiapan masyarakat dalam melakukan pencegahan yang optimal seperti mencuci tangan, menggunakan masker, dan jaga jarak.  April 2020, yayasan perlindungan anak Save The Children mencatat 32% responden survey cepat mereka mencuci tangan sebanyak 4-6 dalam sehari, namun dalam catatan yang sama diketahui tidak ada yang bisa mencuci tangan dengan benar sesuai rekomendasi WHO. Selain upaya pencegahan individu, syarat kesehatan masyarakat lainnya adalah kesiapan surveilans atau lacak kasus untuk mengidentifikasi histori penularan kasus dan kontak-kontaknya.

Syarat terakhir yang tidak kalah penting adalah kesiapan sistem kesehatan termasuk fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, alat kesehatan, jejaring laboratorium hingga pembiayaan. Hingga 15 Juni 2020, rasio tes di Indonesia masih berada di angka 0,21 per seribu jiwa dalam seminggu. WHO sendiri mensyaratkan rasio tes di angka 1 per seribu jiwa dalam seminggu. Kebijakan godam dan tarian yang disodorkan oleh Pueyo tidak bisa semata bertumpu pada pelonggaran atau pengetatan pembatasan sosial. Kebijakan godam harus dibarengi komitmen pemerintah untuk menekan rantai penyebaran dengan agresif. Sementara, kebijakan tarian harus diupayakan melalui edukasi massif masyarakat untuk menuju pola hidup sehat. Ketika pemerintah berhasil memukul pandemi sekeras-kerasnya dengan ‘godam’, barulah masyarakat bisa ‘menari’ bersama mereka. Ketika bahkan pandemi belum dipukul, sepertinya sulit untuk mengajak pandemi ‘berdamai’. Lantas, apakah memang sekarang sudah waktunya itu memasuki kenormalan baru? 


Sumber:

Presentasi Tim FKM UI Adaptasi Kebiasaan Baru: Bagaimana hidup aman & produktif, Forum Diskusi RCCE. 12 Juni 2020

Save The Children. Rapid Needs Assessment COVID-19. https://www.stc.or.id/sci-id/files/a2/a28a607e-64c4-40dd-b983-fe121e4e3167.pdf April 2020

WHO Indonesia Situation Report 12https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/who-situation-report-12.pdf?sfvrsn=12949fda_2. 17 Juni 2020

WHO Indonesia Situation Report 11https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/who-situation-report-11.pdf?sfvrsn=a5ee6cc2_2. 10 Juni 2020

Tomás Pueyo. Coronavirus: The Hammer and The Dancehttps://medium.com/@tomaspueyo/coronavirus-the-hammer-and-the-dance-be9337092b56. 19 Maret 2020

In Beijing it looked like coronavirus was gone. Now we're living with a second wave. The Guardianhttps://www.theguardian.com/commentisfree/2020/jun/21/beijing-coronavirus-second-wave-virus-china. 21 Juni 2020. 

Coronavirus: Fear of second wave in Beijing after market outbreakhttps://www.bbc.com/news/world-asia-china-53034924. 13 Juni 2020.


Penulis:

Yeyen Yenuarizki