Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Thumbnail

Feature

Pembakaran Sampah: Penyebab Polusi Udara yang Sering Diabaikan

Hanindito Arief Buwono23 Apr 2026

Kesimpulan > Pengelolaan sampah di Indonesia yang belum optimal mendorong praktik pembakaran terbuka yang berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan karena polusi udara, sehingga perlu solusi berkelanjutan dan perubahan perilaku masyarakat.

Persoalan sampah di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025 menunjukkan pengelolaan sampah nasional masih jauh dari optimal. Hanya sekitar 25 persen sampah yang berhasil dikelola dengan baik.


Data tersebut juga memperlihatkan timbunan sampah nasional mencapai lebih dari 140 ribu ton per hari. Fakta ini memicu kekhawatiran tersendiri karena sampah yang terus menumpuk dan tidak diimbangi dengan sistem pengolahan memadai akan mendorong praktik pembakaran sampah terbuka.


Di Bali, misalnya, fenomena pembakaran sampah terbuka oleh warga kian marak akibat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang menjadi tempat pembuangan sampah utama tidak menerima sampah organik. Sejak 1 April 2026, TPA Suwung telah resmi menutup pintu bagi sampah organik, yang menyumbang sekitar 65 persen dari total timbulan sampah di Pulau Dewata.


Kebijakan Pemerintah Provinsi Bali ini bertujuan mendorong pengolahan sampah berbasis sumber hingga mencegah risiko pencemaran di TPA. Namun dalam praktiknya, pemerintah daerah belum memiliki infrastruktur memadai sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat dan memicu praktik pembakaran sampah.


Masalahnya, praktik pembakaran sampah justru menyebabkan permasalahan baru. Asap hasil pembakaran sampah berpotensi membuat masyarakat, khususnya kelompok rentan, terpapar bahan kimia dan logam beracun. Polusi udara akibat pembakaran sampah berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat sekaligus lingkungan sekitar.


Pembakaran Sampah dan Bahayanya

Menurut Climate & Clean Air Coalition, pembakaran sampah terbuka adalah praktik yang terjadi karena kurangnya sistem pengolahan dan pengumpulan sampah yang terorganisir. Praktik ini tersebar di berbagai tempat, mulai dari TPA, lokasi pembuangan kecil atau terpencil, hingga tingkat rumah tangga.


Laporan UNICEF menyebutkan, hanya sekitar 40 persen sampah perkotaan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang dikumpulkan secara formal. Sebagian besar dari sampah tersebut akhirnya dibuang atau dibakar. Sementara itu, sampah yang tidak terangkut biasanya dibuang di lingkungan terbuka atau dibakar secara informal.


Pembakaran limbah pertanian menjadi sumber terbesar karbon hitam dan menghasilkan sebaran polusi dalam skala besar yang terbawa angin hingga dapat mencemari komunitas di sekitarnya.


Polusi udara akibat pembakaran sampah terbuka menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 270 ribu kematian dini berkaitan dengan paparan PM2.5 (partikel berbahaya berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang sering ditemukan di udara tercemar) dari aktivitas pembakaran sampah. Anak-anak yang terpapar asap pembakaran sampah sangat rentan terhadap penyakit pernapasan. Ibu hamil yang terpapar udara berpolusi juga cenderung akan melahirkan bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah.


Laporan yang sama dari WHO menunjukkan polusi udara akibat pembakaran sampah terbuka juga mempengaruhi berbagai masalah kesehatan lain, di antaranya:


  • Perkembangan saraf dan fungsi kognitif.
  • Sistem kekebalan tubuh.
  • Fungsi paru-paru dan tiroid.
  • Produksi hormon.
  • Kesehatan mata, hidung, dan tenggorokan.


Paparan polusi udara akibat pembakaran sampah juga dapat meningkatkan risiko anak-anak mengalami penyakit kronis di kemudian hari, seperti diabetes dan kanker.


Selain dampak kesehatan, polusi yang dihasilkan dari pembakaran sampah terbuka juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Menurut Didin Agustian Permadi, dosen teknik lingkungan di Institut Teknologi Nasional (ITENAS), karbon hitam yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna seperti plastik, karet, dan sampah organik hanya dapat bertahan di atmosfer selama beberapa hari hingga minggu. Durasi ini jauh lebih singkat dibandingkan karbon dioksida yang dapat bertahan di atmosfer hingga ratusan tahun.


Menurut Didin, karbon hitam selama berada di udara mampu menyerap radiasi matahari dan secara langsung memanaskan udara sekitarnya. Bahkan, penelitian Didin tentang interaksi antara polusi udara dan perubahan iklim menunjukkan efek pemanas karbon hitam jauh lebih kuat efek ketimbang karbon dioksida per satuan massa.


Solusi Pembakaran Sampah

Alih-alih menyelesaikan persoalan sampah, praktik pembakaran sampah terbuka justru lebih banyak mendatangkan mudarat khususnya terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Karenanya, pemerintah dan masyarakat sipil harus duduk bersama dan mencari solusi untuk menjaga kualitas udara tetap sehat tanpa tercemar asap dari pembakaran sampah.


Dalam laporan UNICEF, pemerintah dan masyarakat sipil memiliki andil besar dalam upaya mengurangi dampak polusi akibat pembakaran sampah terbuka. Berikut beberapa langkahnya:


Melarang pembakaran sampah terbuka


Pembakaran sampah terbuka, termasuk pembakaran limbah pertanian dan sampah lainnya, perlu dilarang untuk mengurangi polusi udara. Pemerintah perlu memperkuat sistem pengawasan dan penegakan hukum, termasuk menjatuhkan sanksi yang jelas terhadap pelaku pembakaran sampah terbuka.


Menerapkan pengelolaan sampah ramah lingkungan


Pemerintah perlu membuat dan menegakkan regulasi seputar pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Selama ini, penggunaan insinerator memang lazim dilakukan untuk mengelola dan mengurangi volume sampah secara signifikan. 


Namun, laporan dari Aliansi Global untuk Alternatif Insinerator (GAIA) menemukan bahwa penggunaan insinerator juga berpotensi melepaskan zat kimia beracun yang berasal dari pembakaran plastik yang salah satu bahan bakunya berasal dari fosil. Maka dari itu, pemerintah perlu menerapkan solusi alternatif dalam menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. 


Salah satu solusi yang paling efektif dan realistis bagi pemerintah adalah menerapkan kebijakan zero waste ke dalam rencana mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Zero waste adalah konsep pengelolaan sampah yang bertujuan mengurangi jumlah sampah seminimal mungkin.


Contoh aktivitas zero waste yang bisa dilakukan masyarakat adalah menjalankan 5R. Konsep 5R bisa dilakukan dengan cara menolak barang sekali pakai (refuse), mengurangi sampah dari awal (reduce), menggunakan kembali barang-barang layak pakai (reuse), mengolah sampah menjadi produk baru (recycle), dan menanam kembali atau membusukkan sampah organik menjadi pupuk kompos (rot).


Solusi pembakaran sampah bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan zero waste dengan cara konsep 5R.

Foto 1: Piramida konsep 5R (Dok: Wikimedia Commons)


Mendorong perubahan sosial dan perilaku


Strategi perubahan perilaku masyarakat perlu diterapkan untuk mengurangi kebiasaan membakar sampah terbuka. Sebab, penelitian tahun 2024 di Banyuwangi serta laporan dari program CLOCC di Tegal dan Bali, menemukan bahwa perilaku masyarakat menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam keberhasilan pengelolaan sampah dan pengurangan pembakaran sampah terbuka.


Dari praktik baik yang sudah dilakukan di sejumlah daerah, pemerintah perlu mendorong perubahan perilaku melalui kampanye edukasi yang konsisten, penguatan program berbasis komunitas, serta kolaborasi lintas sektor guna membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif agar praktik pembakaran sampah terbuka bisa berkurang.


Menghindari paparan polusi udara akibat pembakaran sampah


Bagi orang tua, usahakan untuk tidak membawa anak-anak ke area yang terdapat praktik pembakaran sampah terbuka. Saat berada di dalam rumah, tutup jendela dan ventilasi untuk mengurangi masuknya polusi dari luar. 


Namun, perlu diingat bahwa polusi udara juga dapat berasal dari aktivitas memasak dan membersihkan bagian dalam rumah. Karena itu, pada kondisi tertentu, membuka sebagian jendela tetap diperlukan agar sirkulasi udara terjaga.


Mengubah kebiasaan untuk perlindungan tambahan


Jika paparan polusi udara dari pembakaran sampah tidak dapat dihindari, anak-anak dan kelompok rentan lainnya dapat mengenakan masker yang pas atau respirator bersertifikasi untuk perlindungan sementara. Namun, perlu dipahami bahwa masker hanya memberikan perlindungan terbatas terhadap gas berbahaya. Upaya paling efektif tetap mengurangi polusi dari sumbernya.


CISDI saat ini menjalankan kampanye Langit Biru Project, sebuah inisiatif untuk mendorong kebijakan perbaikan kualitas udara sekaligus mengajak masyarakat dan komunitas untuk meningkatkan kesadaran serta melindungi diri dari dampak polusi udara. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kampanyenya, silahkan klik tautan berikut ini.


-SELESAI-


Terbaru