
Feature
Kawasan Berorientasi Transit: Solusi Kota Sehat dan Terbebas dari Polusi Udara
Hanindito Arief Buwono • 29 Jan 2026
Kesimpulan > Mengurangi kendaraan pribadi adalah salah satu tujuan utama pembangunan TOD agar mengurangi beragam dampak negatif terhadap masyarakat. Berbagai studi menemukan bahwa TOD memiliki potensi untuk mengurangi emisi CO2.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengkaji 30 kawasan baru yang nantinya dikembangkan menjadi Kawasan Berorientasi Transit (Transit Oriented Development). Pengembangan kawasan baru ini akan melengkapi sejumlah TOD yang telah ada, seperti Dukuh Atas, Lebak Bulus, Blok M, Fatmawati, dan Istora-Senayan.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan pihaknya memetakan kawasan baru tersebut berdasarkan lintasan angkutan umum massal. Selain itu, Syafrin mengatakan pengembangan kawasan TOD tidak harus menunggu proyek Moda Raya Terpadu (MRT) dan Lintas Rel Terpadu (LRT) selesai.
Menurut Syafrin, pengembangan TOD akan mengikuti Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 67 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kawasan Berorientasi Transit. Melalui regulasi tersebut, Syafrin mengatakan operator transportasi akan menjadi pelaksana pembangunan kawasan TOD di wilayah operasionalnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencontohkan salah satu opsi area yang akan menjadi proyek Kawasan Berorientasi Transit yaitu Grogol. Kawasan tersebut akan mulai mengembangkan TOD sejak awal walaupun jalur MRT Timur-Barat akan melewati daerah Grogol pada fase dua.
Pengembangan kawasan baru TOD bisa menjadi angin segar bagi masyarakat Jabodetabek. Kehadiran TOD dapat membuat masyarakat lebih mudah untuk beralih dari transportasi pribadi ke transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dan turut mengurangi macet.
Tidak hanya itu, kehadiran TOD dapat mengurangi dampak polusi udara yang sangat berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Sebab, pembangunan yang berorientasi pada transportasi pribadi dapat meningkatkan emisi dan membutuhkan lebih banyak energi, sumber daya, hingga lahan.
Mengenal Kawasan Berorientasi Transit
Menurut ITDP, Kawasan Berorientasi Transit atau TOD adalah pendekatan pembangunan perkotaan yang dirancang untuk menghubungkan masyarakat, layanan, dan berbagai aktivitas dengan transportasi umum yang berkualitas. TOD menjadikan transportasi publik sebagai pusat perencanaan tata kota.
Konsep TOD dirumuskan seorang arsitek dan perencana kota asal Amerika Serikat bernama Peter Calthorpe pada 1980-an. Secara sederhana, konsep Kawasan Berorientasi Transit mendukung pembangunan tata kota dengan lingkungan yang nyaman untuk berjalan kaki dan bersepeda, sehingga masyarakat bisa menempuh perjalanan lebih singkat dan lebih sehat.
Selain itu, TOD juga mendorong pertumbuhan kota yang lebih terintegrasi antara tata guna lahan dan sistem transportasi. Konsep TOD dapat mencegah perluasan kota yang tidak terkendali (urban sprawl) karena dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, memperpendek waktu tempuh, serta menekan polusi udara.
Kehadiran TOD dapat menempatkan kebutuhan masyarakat, lingkungan, dan kota sebagai pusat dari perencanaan dan desain. Hal ini dicapai dengan menggabungkan seluruh moda transportasi yang paling efisien dan ramah lingkungan agar tercipta akses yang inklusif bagi semua orang untuk berpergian.
Di wilayah Jabodetabek, TOD pertama yang dikembangkan yaitu Dukuh Atas. Kawasan Dukuh Atas telah menjelma menjadi area yang memiliki akses transit terbanyak di Jakarta. Setidaknya ada lima jenis moda transportasi publik bertemu di kawasan ini, mulai dari Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, Lintas Rel Terpadu (LRT) Jakarta, Bus Rapid Transit (BRT) TransJakarta, Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, dan Kereta Api (KA) Bandara.
Tidak hanya itu, TOD Dukuh Atas telah dikembangkan dengan menyediakan akses trotoar baru, koneksi jembatan layang antarmoda, hingga ruang terbuka publik. Dengan demikian, masyarakat dapat mengakses antarmoda tersebut dengan hanya lima menit berjalan kaki melewati fasilitas yang nyaman dan aman.
Dampak terhadap Polusi Udara
Kawasan Berorientasi Transit (TOD) memberikan beberapa manfaat yang bisa langsung dirasakan masyarakat. TOD antara lain dapat mengubah perilaku dan budaya masyarakat dalam memilih tempat tinggal serta tempat kerja.
Sebuah penelitian pada 2022 mengupas tentang perubahan perilaku dan preferensi masyarakat terhadap implementasi TOD di Jakarta. Riset tersebut menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi hunian di sekitar area TOD. Peningkatan tersebut mencerminkan adanya kesiapan para komuter untuk tinggal di TOD yang telah direncanakan.
Peningkatan fungsi hunian tersebut juga menunjukkan masyarakat telah memahami pentingnya memiliki hunian yang terkoneksi dengan TOD agar lebih mudah mengakses transportasi publik. Riset yang sama menjelaskan alasan mengembangkan kawasan hunian di sekitar area TOD dengan tingkat konektivitas transportasi publik, yaitu untuk mengurangi mobilitas, jarak perjalanan, dan penggunaan kendaraan pribadi.
Mengurangi kendaraan pribadi adalah salah satu tujuan utama pembangunan TOD agar mengurangi beragam dampak negatif terhadap masyarakat. Pembangunan kota yang berorientasi pada kendaraan pribadi menyebabkan perluasan kota yang tidak terkendali (urban sprawl) dan meningkatkan polusi udara dan efek gas rumah kaca. Hal tersebut terjadi di Indonesia, dengan riset pada 2025 menunjukkan emisi individu di wilayah perkotaan mencapai 3,39 ton setara karbon dioksida per kapita per tahun. Riset tersebut menunjukkan sektor transportasi paling berkontribusi terhadap total emisi per individu yaitu sebesar 43,34 persen.
Polusi udara dan efek gas rumah kaca akibat urban sprawl juga memperburuk dampak krisis iklim. Perluasan kota menyebabkan jarak tempuh perjalanan lebih panjang, sehingga meningkatkan penggunaan kendaraan bermotor dan menghasilkan lebih banyak polusi udara serta emisi gas rumah kaca.
Studi menunjukkan kawasan yang sangat bergantung pada kendaraan bermotor membuat penduduknya lebih terpapar polusi udara. Anak-anak yang terpapar polusi udara dapat terkena asma dan gangguan perkembangan. Bahkan, penelitian tersebut melaporkan anak-anak yang tinggal dalam jarak 75 meter dari jalan utama berisiko 50 persen lebih tinggi mengalami gejala asma dibandingkan dengan mereka yang tinggal lebih dari 300 meter.
Kawasan Berorientasi Transit secara langsung mengurangi dampak polusi udara dengan memangkas ketergantungan pada kendaraan pribadi. Berbagai studi mendukung hal ini, seperti penelitian di Bangladesh menemukan bahwa TOD memiliki potensi untuk mengurangi emisi CO2 untuk perjalanan menuju tempat kerja dan sekolah di Dhaka. Sementara di Cina, riset membuktikan TOD berbasis rel berkaitan dengan kualitas udara yang lebih baik setelah memperhitungkan faktor-faktor meteorologis, demografis, dan ekonomi.
Melihat tingginya emisi karbon di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jabodetabek, penerapan Kawasan Berorientasi Transit (TOD) bisa menjadi solusi untuk mengurangi polusi udara, meningkatkan kualitas hidup warganya, dan membentuk tata kota berkelanjutan.
-SELESAI-
.png)