Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Thumbnail

Feature

Pedoman Supervisi Suportif Kader Posyandu: Praktik Pelaksanaan Supervisi Suportif untuk Mendukung Layanan Kesehatan Primer Indonesia

Agatha Tyas2 Mar 2026

“Melalui mentoring, kami mendapat pendampingan tentang bagaimana kami memperbaiki kekurangan kami di pelayanan. (Sehingga) itu meningkatkan kepercayaan masyarakat.” -Seorang kader kesehatan di Kota Depok, Jawa Barat



Kader kesehatan atau akrab disebut kader posyandu adalah aktor penting bagi kesehatan Indonesia, terutama dalam memberi layanan kesehatan berbasis masyarakat dan keluarga. Efektivitas layanan kesehatan di tingkat primer bergantung pada keberadaan dan kemampuan kader posyandu dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 


Supervisi suportif merupakan pendekatan fasilitatif yang ditujukan bagi kader kesehatan agar mereka dapat memberikan pelayanan berkualitas kepada masyarakat. Pendekatan ini menekankan dukungan, pembinaan, dan bimbingan yang membangun, bukan pengawasan yang bersifat instruktif atau evaluatif semata. Dalam praktiknya, supervisi suportif dilakukan untuk memecahkan masalah secara kolaboratif, serta komunikasi dua arah yang terbuka antara penyelia dan kader. Pendekatan ini menempatkan kader kesehatan sebagai mitra pembelajaran yang berperan penting dalam sistem kesehatan masyarakat, bukan sekadar pelaksana instruksi1. Selain itu, supervisi suportif juga memperlihatkan dukungan penting penyelia, yang dalam hal ini biasanya adalah tenaga kesehatan puskesmas.


Bekerja sama dengan berbagai mitra, tenaga kesehatan dan kader posyandu, CISDI mengembangkan dan mempraktikkan pendekatan supervisi suportif kader posyandu. Rangkaian penelitian terstruktur dan fase uji coba lapangan, melalui program PN PRIMA di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dilakukan untuk meminimalkan celah antara teori dan praktik. Setiap hambatan yang ditemukan selama tiga tahun periode pengembangan dan uji coba telah dievaluasi untuk memperkuat substansi dan teknik supervisi suportif.


Kerangka konsep supervisi suportif berpusat untuk mengupayakan kader berdaya, yaitu kader yang memiliki kemampuan teknis, kepercayaan diri, serta semangat belajar berkelanjutan. Untuk mencapai kader berdaya, terdapat tiga komponen aktivitas utama yang saling melengkapi, yakni pemantauan kinerja, pendampingan kelompok kader di posyandu (mentoring), dan pembinaan sesuai kebutuhan individual kader (coaching). Aktivitas-aktivitas ini dapat dipraktikkan menyesuaikan dengan jadwal posyandu, puskesmas, dan ketersediaan waktu penyelia dan kader kesehatan.



CISDI telah membuktikan bahwa supervisi suportif memberikan dampak yang nyata, baik bagi pencapaian kader dan kebermaknaan layanan di mata masyarakat. Sebanyak 465 kader kesehatan yang mendapatkan supervisi suportif dalam program PN PRIMA dapat menjangkau lebih dari 34.000 penduduk dalam kurun waktu 18 bulan. Lebih dari itu, kader berhasil melakukan tugas yang kompleks seperti memperbaiki kondisi balita dengan kekurangan gizi, mendampingi baduta (bayi di bawah dua tahun) yang melewatkan jadwal imunisasi, memastikan ibu hamil memeriksakan kehamilan sebanyak enam kali, hingga memastikan orang dengan penyakit tidak menular diperiksa tenaga kesehatan. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa dengan dukungan yang tepat, kader kesehatan siap menjadi bagian dari sistem layanan kesehatan primer.


CISDI merilis Pedoman Supervisi Suportif Kader Posyandu yang berisi langkah pendekatan pendampingan kader posyandu, berdasarkan pembelajaran dan pengujian program intervensi. Kami mempersembahkan pedoman ini kepada para pemerhati kesehatan masyarakat, pengambil keputusan dan kebijakan kesehatan masyarakat, dan para pekerja kesehatan yang ingin memajukan kualitas sistem layanan kesehatan primer, khususnya melalui peningkatan kapasitas kader posyandu.




Konsep yang disusun telah melalui proses pembaruan berulang demi menjamin keselarasan dengan regulasi Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dibuat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023-2024. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa pedoman tetap relevan dengan arah kebijakan nasional terbaru.


Hadirnya Pedoman Supervisi Suportif Kader Posyandu ini merupakan ajakan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengadopsi praktik supervisi yang lebih mendukung kader kesehatan secara humanis dan berbasis pada kebutuhan masyarakat yang dilayani kader. Seluruh pembelajaran dan langkah taktis pengembangan supervisi suportif tersedia untuk dipelajari, diadaptasi, serta diimplementasikan demi terciptanya sistem kesehatan yang lebih tangguh dan inklusif di masa depan.



1Nida, S., Tyas, A.S.A., Putri, N.E. et al. A systematic review of the types, workload, and supervision mechanism of community health workers: lessons learned for Indonesia. BMC Prim. Care 25, 82 (2024). https://doi.org/10.1186/s12875-024-02319-2

Terbaru