
Siaran Pers
Hadir ke Universitas Airlangga, CISDI Goes to Campus Ajak Orang Muda Bongkar Ketimpangan Akses Pangan Sehat
CISDI Secretariat • 23 Sep 2026
Surabaya, 24 September 2026 - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menggelar CISDI Goes to Campus (CGTC) di Universitas Airlangga, Surabaya. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi orang muda untuk memahami fakta di balik pangan kemasan dan hak atas pangan sehat berdasarkan perspektif akademis lintas disiplin.
Universitas Airlangga menjadi kampus kesepuluh yang dikunjungi CGTC sejak 2023. Melalui sesi diskusi publik, CISDI mendorong orang muda melihat konsumsi makanan dan minuman tidak sehat sebagai persoalan lingkungan pangan dan bukan pilihan individu semata.
“Di tengah gempuran pemasaran produk tinggi gula, garam, dan lemak, membahas hak atas pangan sehat sangat krusial. Studi pengujian Model Profil Gizi (Nutrient Profile Models) CISDI tahun ini bersama Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) Universitas Airlangga menemukan 9 dari 10 produk pangan kemasan yang diuji memiliki kandungan gula, garam, atau lemak berlebih, atau mengandung pemanis non-gula,” kata Ika Nindyas Ranitadewi, Food Policy Analyst, CISDI.
Dalam sambutan pembukaan CGTC, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, S.KM., M.Kes mengatakan penyakit degeneratif kini makin banyak dijumpai pada usia muda. Padahal dulu lebih banyak dijumpai pada lansia. Karenanya, pola kesehatan masyarakat perlu diubah lewat kolaborasi lintas sektor.
“Kegiatan yang menyatukan berbagai kepakaran akademisi seperti ini harapannya bisa diadakan secara tahunan, sebab pola kesehatan di masyarakat tidak bisa diubah tanpa kerja sama dengan sektor lain,” kata Prof. Ratna.
Diskusi publik ini turut menghadirkan tiga pembicara dari Universitas Airlangga, yaitu Ni Made Sukarti (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S. H., CSSL., (Guru Besar Ilmu Hukum), dan Prof. Trias Mahmudiono, S. KM, MPH (Nutr.), GCAS, Ph.D (Guru Besar Ilmu Gizi).
Dalam diskusi, peserta diajak memahami berbagai instrumen pembentuk lingkungan pangan yang lebih sehat. Salah satu instrumen itu adalah cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Berbagai studi telah menunjukkan, cukai MBDK tidak hanya meningkatkan harga produk, tetapi juga menekan konsumsi. Cukai MBDK dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengendalikan faktor risiko penyakit tidak menular.
Selain cukai MBDK, kebijakan lain perlu diterapkan untuk membentuk lingkungan pangan sehat. Di antaranya, label peringatan depan kemasan dan pembatasan pemasaran. Keduanya juga terbukti dapat menurunkan konsumsi produk tinggi gula, garam, dan lemak di masyarakat. “Dengan adanya kebijakan cukai minuman berpemanis buatan, peringatan di kemasan, dan pembatasan pemasaran, akan tercipta lingkungan pangan yang sehat,” kata Prof. Trias Mahmudiono.
Sejauh ini, cukai MBDK telah diterapkan di lebih dari 100 negara. Selain berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat, pemberlakuan cukai MBDK juga berpotensi menambah penerimaan negara. Studi CISDI (2024) menunjukkan penerapan cukai MBDK berdampak pada penghematan biaya pengobatan diabetes tipe 2 sebesar Rp 24,9 triliun dan mencegah kerugian negara hingga Rp 15,7 triliun karena hilangnya produktivitas ekonomi.
Ni Made Sukarti mengatakan, MBDK perlu dikendalikan lewat cukai karena instrumen ekonomi harga menyentuh langsung rasionalitas konsumen. “Sesuai prinsip elastisitas harga, ketika harga produk naik sekian persen kelak akan mendorong penurunan konsumsi dalam persentase yang sama,” ungkap Ni Made Sukarti.
Gambar 1: Ilustrasi label depan kemasan yang direkomendasikan untuk diterapkan di Indonesia.
Prof. Suparto Wijoyo mengatakan, pangan adalah hak asasi manusia mengacu pada Declaration of Human Rights. Dalam konteks Indonesia, akses pangan sehat merupakan hak dasar warga negara yang terefleksi dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Aturan itu menjamin hak keamanan dan keselamatan konsumen dalam mengkonsumsi produk dengan mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur. “Konsumen punya hak mendapatkan makanan sehat,” ujar dia.
Selain diskusi panel, CISDI menyelenggarakan pelatihan penulisan konten perihal pangan sehat untuk peserta-peserta terpilih di Universitas Airlangga, 16 dan 22 September lalu.
-SELESAI-
Tentang CISDI
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah pusat kepakaran yang bertujuan memajukan pembangunan sektor kesehatan dan penguatan sistem kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi, dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.
Informasi lebih lanjut
Tim Media CISDI
0851-1139-0040
Email: [email protected]
.png)