
Siaran Pers
Kunjungi Kampus Universitas Andalas, CISDI Ajak Mahasiswa Bahas Ekosistem Kesehatan Digital
CISDI Secretariat • 12 Mei 2026
Padang, 13 Mei 2026 — Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menyelenggarakan kegiatan CISDI Goes to Campus (CGTC) di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat pada Rabu (13/5). Mengusung tajuk “Dari Kampus & Calon Nakes: Siapkah Kesehatan Digital Indonesia?”, acara ini dikemas dalam bentuk talkshow yang menghadirkan berbagai pakar serta ahli kesehatan digital.
Community Engagement Manager CISDI Zenithesa Gifta Nadirini mengatakan transformasi digital merupakan instrumen strategis yang vital guna memperkokoh sistem kesehatan nasional.
“Merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), negara-negara dengan strategi digital nasional yang menyeluruh terbukti mampu memperluas akses layanan kesehatan hingga ke pelosok daerah,” ungkap Zenithesa.
CISDI tergabung dalam koalisi Transform Health Indonesia (THI), sebuah koalisi nasional yang bermitra dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, seperti Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), hingga Center for Health Policy and Management, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (CHPM FK-KMK UGM).
Koalisi ini bertujuan mewujudkan sistem pelayanan kesehatan primer yang terdigitalisasi dan terintegrasi penuh pada 2030. CISDI merupakan salah satu koordinator koalisi yang beranggotakan sedikitnya 20 organisasi dan lembaga ini.
Di Indonesia, pemerintah tengah mengakselerasi digitalisasi melalui enam pilar transformasi kesehatan yang diinisiasi Kementerian Kesehatan. Implementasi ini mencakup pengembangan aplikasi digital, pemberlakuan rekam medis elektronik (RME) di seluruh layanan, serta integrasi data kesehatan melalui platform SATUSEHAT.
Meski demikian, transformasi digital kesehatan dinilai tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia yang menggunakannya di lapangan.
Founder and CEO CISDI, Diah Satyani Saminarsih, menyoroti bahwa tantangan terbesar transformasi digital kesehatan saat ini justru berada pada aspek pengguna, terutama tenaga kesehatan dan kader kesehatan sebagai garda terdepan layanan kesehatan masyarakat.
Ia menjelaskan tingkat kesiapan digital di lapangan masih sangat beragam. Sejumlah kader kesehatan telah terbiasa menggunakan perangkat digital seperti ponsel pintar, namun tidak sedikit yang masih menghadapi hambatan akibat keterbatasan literasi digital, latar belakang pendidikan nonformal, maupun minimnya pengalaman menggunakan teknologi.
“Tantangannya sekarang adalah bagaimana menjaga apa yang sudah dijalankan pemerintah, sembari tetap membawa inovasi. Namun, celah terbesar justru ada di pengguna, terutama tenaga kesehatan. Mandat kita adalah bagaimana memperkecil kesenjangan tersebut, tetap mendorong inovasi, tetapi juga memastikan pengguna layanan kesehatan tidak tertinggal dalam transformasi digital,” kata Diah.
Kementerian Kesehatan telah mengupayakan ekosistem kesehatan nasional terintegrasi. Upaya ini tercermin dari platform SATUSEHAT yang kini menjangkau setidaknya 100 juta pengguna dan terhubung dengan 30.000 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.
Saldi Yusuf, Technical Working Group Sistem Informasi Kesehatan (SIK), mengatakan integrasi sistem kesehatan digital bertujuan untuk menghapus sekat-sekat informasi data pasien yang sebelumnya terfragmentasi. Menurutnya, penggunaan sistem digital pasca-pandemi berkembang pesat sehingga kreativitas, inovasi, dan pemahaman terhadap determinan digital kini menjadi kompetensi baru yang wajib dimiliki setiap tenaga kesehatan.
“Penggunaan sistem digital kesehatan setelah pandemi COVID-19 berkembang pesat. Kreativitas dan inovasi kini menjadi harga mati, dan memahami determinan digital adalah kompetensi baru yang wajib dimiliki setiap tenaga kesehatan,” kata Saldi.
Enny Rachmani, Dosen Universitas Dian Nuswantoro dan Konsultan untuk THI, menuturkan permasalahan kesenjangan kompetensi ini menjadi pekerjaan rumah bagi institusi pendidikan tinggi. Perguruan tinggi didorong untuk memperdalam pemahaman mengenai kompetensi kesehatan digital yang tidak hanya terbatas pada penggunaan aplikasi.
“Tantangan mewujudkan transformasi digital kesehatan adalah keterbatasan akses masyarakat untuk memanfaatkannya. Persoalan ini merupakan tugas bersama bagi sesama tenaga kesehatan, baik di layanan kesehatan maupun universitas. Karenanya, dosen serta staf pengajar lainnya perlu membiasakan diri menggunakan tools digital yang kelak mereka ajarkan kepada mahasiswa,” kata Enny.
Sejalan dengan prinsip panduan WHO, pengarusutamaan kesehatan digital memerlukan komitmen nasional, strategi yang terintegrasi, penggunaan teknologi yang tepat guna, serta kesadaran terhadap hambatan implementasinya di negara-negara berkembang.
“Investasi pada sektor kesehatan digital adalah sebuah keniscayaan. Karenanya, institusi dan tenaga pendidikan kesehatan merupakan aset utama dalam proses tersebut,” kata Diah menutup diskusi.
-SELESAI-
Tentang CISDI
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi non-profit yang bertujuan memajukan pembangunan sektor kesehatan dan penguatan sistem Kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi, dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.
Informasi lebih lanjut
Tim Media CISDI
0851-1139-0040
Email: [email protected]
.png)