Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Thumbnail

Siaran Pers

Lewat Komunitas, CISDI Dorong Upaya Kurangi Dampak Polusi Udara di Kota Satelit

CISDI Secretariat • 12 Juni 2026

Tangerang Selatan, 13 Juni 2026 - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menyelenggarakan kegiatan komunitas Health Inc bertajuk “Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel” di Tangerang Selatan, Banten. Kegiatan ini mempertemukan praktisi kesehatan dan lingkungan, komunitas, hingga masyarakat untuk membahas keterkaitan antara polusi udara, kesehatan fisik, dan kesehatan mental dalam kehidupan perkotaan.


Urban & Environmental Health Lead CISDI, Wisya Aulia Prayudi, mengatakan bahwa Tangerang Selatan masih menjadi salah satu kota dengan polusi yang tinggi di Indonesia. Hal ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular yang disebabkan oleh polusi udara. PM2,5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai karena bisa menurunkan kualitas kesehatan dalam jangka waktu yang lama karena bisa masuk ke dalam sistem peredaran darah. Kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber utama pencemaran udara di Tangerang Selatan dan wilayah lain di Jabodetabek. 


“Polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Selain memicu gangguan pernapasan, polusi udara turut mempengaruhi produktivitas kelompok usia muda dengan mobilitas tinggi,” kata Wisya dalam acara diskusi publik Health Inc di kafe Orbit Brasserie, Sabtu, 13 Juni 2026


Wisya menjelaskan, Tangerang Selatan merupakan salah satu wilayah kota satelit Jakarta yang terus mengalami pertumbuhan mobilitas. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik Banten, Wisya menuturkan pertumbuhan kendaraan bermotor di Tangerang Selatan cenderung meningkat, yaitu sebanyak 1,63 juta unit pada 2025. Angka ini berkorelasi langsung dengan aktivitas harian masyarakat yang berkontribusi pada meningkatnya emisi, salah satu sumber utama polusi udara.


Ia juga menambahkan wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya kerap mencatatkan konsentrasi PM2.5 melebihi ambang batas aman, yaitu di atas 50 µg/m³. Nilai ini lebih tinggi dari target interim WHO tertinggi (Interim I) sebesar 35 µg/m³.


“Dampak polusi udara sering kali tidak disadari karena sifatnya tidak kasat mata, menjadikan polusi udara sebagai silent stressor dalam kehidupan perkotaan,” ujar Wisya.


Melalui kegiatan komunitas Health Inc, CISDI mendorong masyarakat untuk melihat isu polusi udara tidak hanya dari aspek lingkungan tetapi juga dari perspektif kesehatan. Selain menghadirkan perspektif kesehatan masyarakat, Health Inc kali ini juga mengangkat pengalaman komunitas yang sehari-hari berinteraksi dengan ruang kota dan tantangan kualitas udara.


Program Director Bike2Work Indonesia Dimas Gilang berbagi pengalaman mengenai berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan polusi udara selama beraktivitas. Salah satunya, menurut Dimas, pemerintah perlu menyediakan sistem transportasi yang lebih sehat serta ramah lingkungan di wilayah kota satelit seperti Tangerang Selatan.


“Kami menyuarakan pembenahan sistem transportasi agar semua moda transportasi bisa saling terhubung. Selain itu, kami juga mendorong tersedianya parkiran sepeda agar pesepeda bisa mengakses transportasi umum dengan nyaman. Sistem transportasi yang saat ini membuat kita jadi malas bergerak. Maka dari itu, kita bisa memulai perubahan dari hal-hal kecil dan sederhana, kalau jaraknya dekat bisa berjalan kaki saja dan konsisten dilakukan,” ujar Dimas.


Psikolog klinis dari organisasi Noutrisi Jiwa Winona Lalita mengatakan, tekanan akibat perjalanan panjang, paparan polusi selama mobilitas, dan tuntutan aktivitas sehari-hari dapat memperburuk tingkat stres dan kelelahan, khususnya pada mahasiswa dan pekerja muda. Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan mental di tengah kondisi lingkungan yang menantang bisa dilakukan dengan mengambil rehat sejenak.


“Kalau dari sisi psikologisnya, kita bisa mulai dengan menyadari nafas kita. Dengan memberikan jeda, kita dapat mengurangi kecemasan. Kecemasan yang timbul akibat berada di lingkungan berpolusi juga dapat dikurangi dengan cara mengawali kegiatan dengan melihat tanaman setelah bangun tidur,” kata Winona.


Kreator konten ramah lingkungan Nada Arini menambahkan bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam sistem yang sulit untuk hidup lebih sehat. Menurut dia, kebijakan-kebijakan yang ada tidak mendukung kita untuk menjalani hidup ramah lingkungan.


Dalam hal pembakaran sampah, misalnya, Nada menilai praktik ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pengolahan sampah yang kerap tidak berjalan di suatu daerah. Akibatnya, masyarakat yang sampah rumah tangganya tidak terangkut memilih membakar sendiri sampahnya.


“Masalahnya, praktik membakar sampah bisa membahayakan kesehatan karena sampah yang dibakar isinya bercampur antara sampah organik dengan plastik dan bahan-bahan lainnya. Asap hasil pembakaran sampah menghasilkan polusi udara,” kata Nada.


- SELESAI -


Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi non-profit yang bertujuan memajukan pembangunan sektor kesehatan dan penguatan sistem kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi, dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.


Informasi lebih lanjut 

Tim Media CISDI

0851-1139-0040

Email: [email protected]

www.cisdi.org


Terbaru