Thumbnail

Berita

CISDI Libatkan Peer Educators Rancang Intervensi Pendidikan Sebaya dalam Young Health Programme

Murti Utami Putri9 Apr 2021

CISDI menyelenggarakan diskusi rencana tindak lanjut (RTL) bersama peer educators terpilih dari sekolah-sekolah menengah di Jakarta Barat dan Jakarta Utara dalam Young Health Programme. (Sumber gambar: Dok. YHP)


Program Kesehatan Kaum Muda atau Young Health Programme (YHP) AstraZeneca merupakan proyek kolaborasi yang berfokus pada pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM) untuk anak dan kaum muda. Melalui YHP, anak dan kaum muda usia 10-24 tahun dilibatkan sebagai garda terdepan pelaksanaan program intervensi kesehatan, salah satunya melalui pendidikan sebaya.


Pendidikan sebaya[1] adalah proses belajar non-formal untuk memberdayakan, meningkatkan kepercayaan diri, dan mendorong semangat belajar mandiri kaum muda. Pendidikan sebaya terjadi ketika anak atau kaum muda melaksanakan aktivitas bersama untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, hingga sikap yang bermanfaat bagi mereka.


Sementara, pendidik sebaya atau peer educator dalam program YHP adalah sebutan bagi mereka yang berumur dekat atau sebaya dan mengarahkan atau menyampaikan wawasan melalui pendidikan sebaya. Hingga hari ini pendidikan sebaya masih dianggap sebagai salah satu metode promosi kesehatan paling efektif bagi anak dan kaum muda.


Sebuah hasil riset yang dipublikasikan oleh The National Center for Biotechnology Information[2] juga menyebutkan bahwa pendidikan sebaya merupakan salah satu upaya yang efektif untuk mempromosikan perilaku hidup sehat sejak usia muda.


Merancang tindak lanjut

YHP diselenggarakan di Brazil, Kolombia, Mesir, India, Kenya, Myanmar, Thailand, Inggris, Vietnam, Zambia, dan Indonesia. Di Indonesia, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bertugas sebagai penyelenggara YHP dengan CISDI dan Yayasan Lentera Anak sebagai mitra pelaksana di 4 wilayah administrasi di DKI Jakarta. CISDI mengelola YHP di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara dengan melibatkan 10 sekolah dan 5 puskesmas di masing-masing wilayah.


Program ini merekrut anak dan kaum muda dari sekolah intervensi untuk kemudian dilatih sebagai pendidik sebaya. Masing-masing sekolah perlu mengirimkan 4 perwakilan siswa dalam pelatihan. Sebelum melaksanakan peran sebagai peer educators, mereka yang terpilih mendapat pelatihan mengenai serba serbi PTM, mulai dari penyebab kemunculan hingga upaya pencegahannya.


Pasca pelatihan, mereka akan mengikuti diskusi rencana tindak lanjut (RTL) dipandu oleh Tim YHP CISDI. Tim menyelenggarakan diskusi RTL bersama peer educators secara daring melalui media Zoom Meeting dan Google Meet pada Jumat hingga Kamis lalu (24-30/8). “Diskusi penyusunan RTL ini diikuti 80 peer educators dari Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Masing-masing wilayah mengirim 40 peer educators,” ujar Murti Utami Putri, Field Officer CISDI untuk YHP.


Meski terlaksana secara daring, hal ini tidak menyurutkan semangat peer educator untuk mengemas acara dan menyumbangkan ide terbaik. Dalam penyusunan RTL ini Tim YHP CISDI, mulai dari project leader, program officer, hingga field officer berperan sebagai fasilitator mendampingi peer educators memahami tujuan dan pentingnya penyusunan RTL.


Akhsan (15), salah seorang pelajar SMA di Jakarta Barat yang juga salah seorang peer educator dalam kegiatan ini sebagai contoh, menunjukkan antusiasmenya sepanjang pelaksanaan program. Ia mengaku senang dilibatkan dalam penyusunan RTL. “Saya senang karena YHP memberi keluwesan bagi peer educator menentukan kegiatan sesuai kemampuan, kapasitas, dan formalitas peserta.”


Ia juga menambahkan bersama YHP, peer educator akan terus berupaya meluaskan informasi kesehatan yang telah didapatkan sepanjang sesi pelatihan. “Materi-materi ini bagus banget. Saya ingin coba sampaikan hal ini ke teman-teman juga, supaya mereka sadar dengan bahaya PTM,” ujarnya.


Pengalaman baru

Terlibat menyusun rencana program pendidikan sebaya merupakan pengalaman baru bagi peer educator terpilih. Sepanjang pelatihan tidak jarang mereka temui kesulitan, namun hal itu tidak juga menyurutkan semangat belajar mereka. “Saya bingung karena harus membuat acara (RTL) yang menarik dan nggak boring,” ujar Naufal (17), pendidik sebaya lainnya.


Liza (16) yang juga hadir menjadi pendidik sebaya, menyampaikan pendapat lain. “Menurutku, acara ini bagus banget. Awalnya kukira susah membuat RTL, ternyata nggak sesusah itu karena dikerjakan bersama teman-teman yang lain,” ujar pelajar kelas 10 asal Jakarta Barat ini.


Meski mengalami banyak tantangan menyusun RTL, calon-calon pendidik sebaya ini tetap bersemangat menjalani pelatihan. Mereka berkomitmen merancang program berdasarkan keresahan bersama yang dialami anak dan kaum muda di sekitar mereka.


Hingga hari ini keterlibatan kaum muda dalam mencegah kemunculan penyakit tidak menular (PTM) sangat penting. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 lalu menyebut, tren PTM mengalami peningkatan pada usia 10-14 tahun.


Kemunculan PTM di Indonesia berpotensi menghambat capaian menuju bonus demografi pada 2045 mendatang. Selain mempengaruhi kesehatan, PTM juga menyulitkan terwujudnya anak bangsa yang sehat dan cerdas menuju Indonesia maju pada 2045 mendatang.


“Karenanya, upaya pencegahan PTM yang gencar melalui berbagai metode seperti pendidikan sebaya semakin diperlukan,” ujar Murti Utami Putri, Field Officer CISDI, menutup kegiatan.


[1] https://epto.org/content/peereducation

[2] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4499060/


Terbaru