
Feature
Bukan Sekadar Perjalanan: Peran Transportasi Umum Membentuk Gaya Hidup Sehat
Hanindito Arief Buwono • 25 Agu 2026
- Transportasi umum penting untuk mengatasi kemacetan dan mendukung mobilitas warga Jabodetabek.
- Integrasi moda terus dikembangkan agar perjalanan lebih nyaman dan mudah.
- Transportasi publik membantu menciptakan kota yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Populasi yang terus bertambah membuat DKI Jakarta dihadapkan pada tantangan untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum warganya. Tidak hanya melayani di dalam wilayah Ibu Kota, transportasi umum juga dibutuhkan untuk menjangkau hingga seluruh area penyangga.
Sebagai pusat ekonomi, Jakarta menerapkan konsep aglomerasi dengan wilayah yang berbatasan di sekitarnya sebagai daerah penyangga Ibu Kota, antara lain Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Jutaan komuter dari daerah penyangga setiap hari bekerja, sekolah, berbisnis, rekreasi, hingga mengakses berbagai layanan publik di Jakarta.
Dengan populasi mencapai 42 juta jiwa, kebutuhan warga Jabodetabek untuk bermobilitas dengan aman dan nyaman semakin mendesak. Terlebih, Jakarta konsisten menduduki posisi 50 besar sebagai kota dengan kemacetan terburuk di dunia. Dengan kondisi ini, pembangunan transportasi umum yang nyaman dan bisa diandalkan menjadi kebutuhan utama warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus mengurangi penggunaan transportasi pribadi.
Saat ini, Jakarta sudah memiliki beragam moda transportasi umum yang bisa dinikmati warga Jabodetabek. Opsi seperti Moda Raya Terpadu (MRT), Kereta Rel Listrik (KRL), Lintas Raya Terpadu (LRT), Bus Transjakarta, hingga Kereta Bandara bisa melayani warga yang menempuh perjalanan komuter dari kota dan kabupaten penyangga Ibu Kota.
Untuk meningkatkan kenyamanan dan konektivitas antarmoda transportasi umum, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah membangun sejumlah infrastruktur yang diharapkan mendorong warga beralih dari transportasi pribadi. Misalnya, perluasan rute LRT Jakarta koridor Manggarai-Velodrome yang ditargetkan rampung tahun ini diharapkan mampu menyedot penumpang dari wilayah permukiman padat penduduk.
Selain itu, PT MRT Jakarta sedang merencanakan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas sebagai penghubung antarmoda di kawasan Dukuh Atas. Dengan mengusung Transit Oriented Development (TOD), nantinya pembangunan ini dapat menghubungkan Stasiun MRT Dukuh Atas, Stasiun KRL Sudirman, Stasiun BNI City, LRT Jabodebek, LRT Jakarta, hingga halte Transjakarta.
Serangkaian pembangunan tersebut diharapkan dapat mempermudah warga untuk beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum. Sebab, transportasi umum sangat efektif mengatasi kemacetan serta berdampak positif terhadap lingkungan serta kesehatan warga.
Bagaimana Perkembangan Transportasi Umum di Jakarta
Transportasi umum bertujuan meningkatkan akses warga terhadap penggunaan kendaraan umum. Selain itu, sistem transportasi umum juga bisa mengurangi jumlah perjalanan kendaraan bermotor dan kemacetan lalu lintas.
Sejarah transportasi umum di Jakarta telah merentang sejak Ibu Kota masih bernama Batavia. Sistem transportasi umum seperti trem pernah berjaya sejak 1869 dan menjadi cikal bakal layanan transportasi berbasis rel yang sekarang digunakan di Jakarta.
Trem pertama kali diperkenalkan masih menggunakan tenaga kuda. Barulah pada 1882 trem uap dapat diakses masyarakat karena dianggap lebih efisien untuk melayani jalur tempuh dari Kota Intan (sekarang Kali Besar) hingga Kampung Melayu.
Saat ini, Jakarta mempunyai tiga jenis transportasi umum berbasis rel. MRT Jakarta (Ratangga)dengan enam rangkaian kereta bisa menampung sekitar 1.950 penumpang. Adapun KRL bisa menampung hingga 2.000 penumpang dan LRT memiliki kapasitas penumpang sebanyak 600 orang.
Selain moda transportasi umum berbasis rel, Jakarta juga memiliki jenis transportasi lain yang memuat lebih banyak penumpang, yakni bus kota. Sebelumnya, warga Jakarta bisa menikmati Metromini dan Kopaja sebagai salah satu opsi transportasi umum untuk berkegiatan.
Namun, sejak 2019, hak pengoperasian Metromini serta Kopaja dicabut, dan sekarang warga Jakarta bisa menggunakan Transjakarta sebagai moda transportasi bus. Transjakarta merupakan BRT pertama di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang memiliki jalur lintasan terpanjang di dunia, bisa mengangkut sekitar 1,4 hingga 1,6 juta penumpang per hari.
Terakhir, Jakarta juga memiliki Mikrotrans sebagai moda angkutan penumpang atau feeder yang bisa menjangkau warga hingga lebih dekat dengan permukiman. Mikrotrans sendiri mengganti peran oplet dan mikrolet yang kian hari mengalami kemunduran sejak era transportasi online.
Manfaat Transportasi Umum
Menurut International Association of Public Transport, menggunakan transportasi umum tidak hanya bermanfaat untuk mengatasi kemacetan. Transportasi umum rupanya juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Dalam aspek kesehatan, penggunaan transportasi umum mendorong masyarakat untuk lebih aktif bergerak. Sebagian besar perjalanan dengan transportasi umum melibatkan aktivitas fisik seperti berjalan kaki menuju dan dari titik pemberhentian maupun melakukan transit antarmoda. Berjalan kaki 10-15 menit ke stasiun atau halte terbukti mampu menyehatkan jantung, meredakan stres, mengontrol berat badan, memperkuat tulang, hingga menurunkan gula darah.
Temuan sebuah penelitian tahun 2024 menunjukkan bahwa menggunakan transportasi umum bagi warga kelompok umur lansia bisa memberikan manfaat kesehatan. Lansia mengakses transportasi umum dikaitkan dengan penurunan risiko obesitas dan depresi.
Di wilayah perkotaan seperti Jakarta, polusi udara juga menyumbang angka kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, hingga penyakit kardiovaskuler. Dengan mengurangi kadar polusi udara, salah satunya dengan memperbanyak akses ke transportasi publik, potensi masyarakat terkena gangguan pernapasan juga dapat ditekan.
Dari segi lingkungan, penggunaan transportasi umum menghasilkan polusi jauh lebih rendah per penumpang per kilometer sehingga mengurangi kadar polusi udara akibat penggunaan transportasi pribadi. Temuan dari studi tahun 2018 di Jakarta mengungkapkan kehadiran Transjakarta berpotensi mengurangi penggunaan sepeda motor pribadi. Studi tersebut menjelaskan bahwa kedekatan dengan halte atau jalur Transjakarta meningkatkan kecenderungan masyarakat memilih moda Transjakarta dibandingkan moda berbasis sepeda motor.
Sebuah penelitian dari Sao Paulo, Brasil, tahun 2021 memperkuat temuan tersebut. Hasil penelitian di Sao Paulo menunjukkan peningkatan transportasi publik, khususnya perluasan jaringan kereta dan metro yang disertai peralihan masyarakat dari mobil pribadi ke transportasi umum serta moda aktif (berjalan kaki dan bersepeda), mampu menurunkan emisi gas rumah kaca dan polusi udara.
Di Indonesia, pembangunan dan pengembangan transportasi umum tidak hanya terpusat di Jakarta dan daerah penyangganya. Di Kota Palembang, Sumatera Selatan, misalnya, keberadaan LRT yang dibangun untuk menyambut ajang Asian Games 2018 hingga kini dapat digunakan warga. LRT Palembang melintasi jalur sepanjang 23,4 kilometer dan bisa menampung hingga 711 penumpang.
Bagi banyak pemerintah daerah, membangun dan mengembangkan transportasi umum bukan pilihan mudah. Sebab, transportasi umum tidak hanya tentang menyediakan pilihan perjalanan bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan kota yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan layak huni. Memastikan transportasi publik terintegrasi dengan jalur pedestrian yang ramah bagi penyandang disabilitas, perempuan, dan kelompok rentan lain sangat penting agar dapat diakses seluruh masyarakat.
Berangkat dari kepedulian itu, CISDI saat ini tengah menjalankan kampanye Langit Biru Project, sebuah inisiatif untuk mendorong kebijakan perbaikan kualitas udara sekaligus mengajak masyarakat dan komunitas meningkatkan kesadaran serta melindungi diri dari dampak polusi udara. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kampanyenya, silahkan klik tautan berikut ini.
-SELESAI-
.png)