Studi ini menganalisis dampak ekonomi secara menyeluruh dari reformasi cukai rokok di Indonesia menggunakan analisis Input-Output (IO). Di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan cukai rokok dapat mengurangi lapangan kerja di sektor tembakau, penelitian ini mengambil perspektif yang lebih luas. Studi ini memodelkan bagaimana kenaikan tarif cukai dan penyederhanaan struktur lapisan (tier) cukai memengaruhi tidak hanya konsumsi rokok dan penerimaan negara, tetapi juga output ekonomi agregat, pendapatan rumah tangga, dan penyerapan tenaga kerja di seluruh perekonomian. Dua belas skenario kebijakan yang mengombinasikan berbagai tingkat kenaikan cukai dan opsi penyederhanaan tier dievaluasi di bawah empat skema alokasi penerimaan pemerintah.
Hasil analisis menunjukkan bahwa reformasi cukai rokok memberikan dampak makroekonomi yang positif di seluruh skenario yang disimulasikan. Dampak terbesar dicapai pada skenario kenaikan tarif cukai 50% yang disertai penyederhanaan tier, baik untuk rokok tangan maupun rokok mesin. Pada skenario ini, output ekonomi neto diperkirakan meningkat sekitar Rp 315,1 triliun, pendapatan rumah tangga bertambah Rp 81,7 triliun, dan sekitar 1,14 juta lapangan kerja tercipta. Temuan ini menunjukkan bahwa cukai rokok tidak hanya berfungsi sebagai instrumen kesehatan masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen kebijakan fiskal dan ekonomi.
Temuan ini membuktikan bahwa kebijakan cukai rokok bukan sekadar instrumen kesehatan masyarakat, melainkan juga kebijakan fiskal dan ekonomi yang efektif.
.png)
