Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Reformasi Cukai Rokok di Indonesia: Simulasi Proyeksi Peningkatan Penerimaan Negara dan Kesehatan Masyarakat

Riset

Reformasi Cukai Rokok di Indonesia: Simulasi Proyeksi Peningkatan Penerimaan Negara dan Kesehatan Masyarakat

Sistem cukai rokok Indonesia saat ini terdiri dari delapan lapisan yang dibedakan berdasarkan jenis rokok, metode produksi, dan skala pabrikan. Kesenjangan harga antarlapisan yang lebar memungkinkan perokok beralih ke produk yang lebih murah (downtrading) ketika cukai naik sehingga dapat melemahkan tujuan fiskal maupun kesehatan masyarakat. Studi ini bertujuan memberikan bukti mengenai dampak potensial berbagai skenario reformasi cukai rokok terhadap harga, konsumsi, penerimaan pemerintah, dan luaran kesehatan di Indonesia.


Menggunakan model simulasi Tobacconomics yang dikembangkan oleh tim Economics for Health di Johns Hopkins University, empat skenario dibandingkan untuk periode 2025–2027: kenaikan cukai tahunan seragam tanpa simplifikasi, simplifikasi lapisan rokok buatan mesin, simplifikasi rokok buatan tangan, dan skenario tanpa reformasi sama sekali (status quo). 


Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga skenario reformasi menghasilkan kinerja lebih baik dibandingkan skenario tanpa reformasi dari dimensi fiskal maupun kesehatan. Skenario 3—yang mengombinasikan kenaikan cukai dengan penyederhanaan lapisan rokok buatan tangan—menghasilkan dampak terkuat dengan pertumbuhan kumulatif penerimaan cukai hingga 31% (60 triliun rupiah), penurunan konsumsi hingga 16%  (51 miliar batang), penurunan prevalensi merokok dewasa sebesar 1,6%, serta estimasi 292.324 kematian dini yang dapat dicegah.


Temuan ini menegaskan pentingnya mengombinasikan kenaikan tarif cukai dengan penyederhanaan struktur lapisan, khususnya pada segmen rokok buatan tangan, untuk memaksimalkan manfaat fiskal dan kesehatan masyarakat.