Dokumen ini merupakan ringkasan hasil simulasi CISDI terkait usulan penambahan lapisan tarif cukai rokok baru, Sigaret Kretek Mesin golongan III (SKM III), yang disusun untuk merespons klaim bahwa layer baru ini dapat mendorong formalisasi produsen rokok ilegal, di tengah struktur cukai yang sudah kompleks dan rawan celah down-trading.
Simulasi menguji sembilan skenario kombinasi tingkat formalisasi dan down-trading pada dua opsi tarif (Rp615 dan Rp301 per batang). Hasil simulasi ini menunjukkan risikonya jauh lebih besar dari manfaatnya. Dengan tarif SKM III Rp615/batang, penerimaan negara berpotensi turun hingga Rp12,23 triliun pada 8 dari 9 skenario; hanya skenario formalisasi optimis dan down-trading rendah yang justru menambah penerimaan (+Rp1,4 triliun). Dengan tarif Rp301/batang, seluruh 9 skenario menunjukkan penurunan penerimaan, hingga Rp35 triliun. Di seluruh skenario, harga rata-rata rokok legal justru turun (1,26%–11,54%), membuat rokok makin terjangkau — berpotensi menambah hingga 1,13 juta perokok baru dan 317 ribu kematian dini akibat merokok.
Berdasarkan temuan tersebut, CISDI tidak merekomendasikan penambahan layer baru, dan sebaliknya mendorong penguatan penegakan hukum terhadap rokok ilegal, penyederhanaan struktur tarif cukai, serta harmonisasi kebijakan fiskal dengan target kesehatan nasional.
.png)
