
Siaran Pers
Inovasi Kesehatan Jangan Berhenti di Pilot Project: CISDI Suarakan Perubahan Sistemik di Leimena Conference 2026
CISDI Secretariat • 27 Juli 2026
Jakarta, 28 Juli 2026 — Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), dalam kemitraan dengan Inggris dan Australia, mendorong penguatan ekosistem yang memungkinkan berbagai inovasi berbasis bukti untuk diadopsi ke dalam sistem kesehatan. Gagasan ini disampaikan dalam sesi diskusi pleno Leimena Conference 2026 berjudul From Innovation to System Adoption: Building Pathways for Sustainable Primary Health Care Transformation in Indonesia pada Selasa, 28 Juli 2026.
Founder and CEO CISDI Diah Satyani Saminarsih mengatakan, inovasi yang dirancang untuk memperkuat layanan kesehatan primer (primary health care), baik dalam bentuk solusi kesehatan digital, intervensi berbasis masyarakat, hingga model pemberian layanan baru, terus meningkat beberapa tahun terakhir. Banyak dari inovasi ini telah menunjukkan hasil menjanjikan dalam meningkatkan akses, kualitas, dan kesinambungan dalam konteks implementasi layanan kesehatan primer.
“Masalahnya, berbagai inovasi kesehatan kerap berhenti pada tahap uji coba atau piloting alias tidak pernah diproduksi massal atau diterapkan permanen. Keadaan ini bisa berimplikasi terhadap sistem kesehatan nasional yang kehilangan momentum untuk melaksanakan perubahan struktural yang nyata,” kata Diah.
Leimena Conference adalah salah satu forum tahunan terkemuka di Indonesia dalam bidang sistem kesehatan dan layanan kesehatan primer. Terselenggara 27-29 Juli 2026, konferensi ini mempertemukan para pembuat kebijakan, peneliti, praktisi, organisasi masyarakat sipil, asosiasi profesi, dan mitra pembangunan lainnya. Lebih dari 100 pakar dan akademisi terlibat dalam kegiatan yang digelar di Gedung PDDI BRIN, Jakarta Selatan, ini.
Leimena Conference 2026 menghadirkan empat sesi pleno yang membahas model layanan kesehatan primer terintegrasi, digitalisasi Integrasi Layanan Primer (ILP), pembiayaan ILP yang berkelanjutan, serta penguatan sumber daya manusia kesehatan. Konferensi ini juga dilengkapi dengan dialog kebijakan regional, sesi paralel, hingga pameran 10 booth dari berbagai komunitas dan mitra pembangunan kesehatan.
Dalam sesi diskusi ini, CISDI mengundang perwakilan dari Kementerian Kesehatan, KONEKSI (Platform Kemitraan Pengetahuan Australia-Indonesia), serta Kedutaan Besar Inggris dengan tujuan mempertemukan perspektif dari pemerintah, pelaksana program, hingga pakar internasional untuk mengeksplorasi berbagai langkah praktis dalam mendorong transformasi sistem kesehatan yang berkelanjutan.
Pada sesi diskusi ini tersebut, Diah menjelaskan bahwa inovasi kesehatan perlu terus didorong hingga mencapai tahap adopsi sistem, yakni ketika sebuah inovasi diproduksi secara massal dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Namun, inovasi kesehatan kerap terhambat berbagai alasan, mulai dari kurangnya keselarasan kebijakan, kesenjangan pembuktian, tumpang tindih kebijakan, hingga kurangnya pelibatan stakeholders yang relevan dalam desain inovasi.
Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan, dr. Elvieda Sariwati, M. Epid, menuturkan pemerintah tidak bisa menjalankan transformasi kesehatan sendiri. Karenanya, kata dia, pelibatan berbagai pihak dalam menghasilkan beragam inovasi kesehatan berbasis bukti mutlak diperlukan.
“Inovasi berbasis bukti yang kuat menurut kami merupakan kunci utama agar sebuah inovasi tidak hanya berhenti di tahap ‘uji coba’. Visi Kemenkes sangat jelas bahwa kami hendak membangun ekosistem kesehatan yang adaptif, yakni ketika setiap inovasi dengan basis ilmiah yang kuat masuk ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional, secara efisien, merata, dan berkelanjutan,” ungkap dr. Elvieda.
Jana Hertz, Team Leader KONEKSI, menyebut kemitraan multipihak sangat dibutuhkan untuk menjembatani jarak antara ide inovasi dengan tahap adopsinya.
“Pemerintah berperan dalam memberikan kepemimpinan dan arah kebijakan, sementara peneliti dan akademisi menghadirkan metodologi ilmiah yang kuat. Pada saat yang sama, organisasi masyarakat sipil dan komunitas lokal memainkan peran krusial dalam mengimplementasikan hasil penelitian dan inovasi di lapangan,” ujar Jana.
Julia Takahashi-Robertson, Health Adviser and Head of The Health Team, Kedutaan Besar Inggris Jakarta, menjelaskan pengalaman Inggris dalam mengembangkan inovasi kesehatan hingga proses adopsinya ke dalam kebijakan nasional.
“Di Inggris, inovasi kesehatan perlu melalui proses yang jelas sebelum digunakan secara luas. Inovasi harus diuji, dinilai, dan dipastikan aman, bermanfaat, sesuai kebutuhan sistem kesehatan, serta memberikan nilai yang baik bagi masyarakat. Melalui lembaga seperti National Institute for Health and Care Excellence (NICE), Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA), dan National Health Service (NHS) melalui Health Innovation Networks, inovasi kesehatan dapat dinilai berdasarkan keamanan, manfaat klinis, efisiensi biaya, dan dampaknya di lapangan sebelum diadopsi menjadi kebijakan dan aturan pelaksananya. Dengan begitu, inovasi tidak hanya menjadi teknologi baru, tetapi juga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dan dipastikan dapat membantu meningkatkan kualitas sistem kesehatan dan kesehatan masyarakat,” kata Julia.
Diah memandang keberhasilan transformasi kesehatan Indonesia tidak sepantasnya hanya diukur dari seberapa banyak pilot project (percontohan) diluncurkan. Menurut Diah, kesuksesan transformasi kesehatan perlu dibuktikan melalui seberapa banyak inovasi berbasis bukti yang berhasil dirancang bersama, dilembagakan, diadopsi dalam kebijakan negara, serta dirasakan manfaatnya secara merata oleh seluruh masyarakat.
-SELESAI-
Tentang CISDI
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah pusat kepakaran yang bertujuan memajukan pembangunan sektor kesehatan dan penguatan sistem kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi, dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.
Informasi lebih lanjut
Tim Media CISDI
0851-1139-0040
Email: [email protected]
Tentang KONEKSI
KONEKSI merupakan inisiatif kolaboratif di sektor pengetahuan dan inovasi, yang mendukung kemitraan antara organisasi Australia dan Indonesia untuk mendorong tumbuhnya kebijakan dan teknologi yang inklusif dan berkelanjutan. Didukung oleh Pemerintah Australia dan Indonesia, KONEKSI mendukung kemitraan pengetahuan yang setara guna mengatasi tantangan sosioekonomi.
Tentang Kedutaan Besar Inggris Jakarta
Kedutaan Besar Inggris Jakarta melalui program Digital Health bertujuan memperkuat sistem kesehatan Indonesia melalui dukungan terhadap transformasi kesehatan digital, termasuk pengembangan Digital Health Transformation Strategy dan Regulatory Sandbox untuk telemedicine. Program ini juga mendukung pengembangan kapasitas tenaga kesehatan melalui proyek MARCH, serta mendorong inovasi untuk memperkuat kapasitas dan pengetahuan Indonesia di bidang genomik. Sejak 2021, program ini telah berkontribusi pada upaya mewujudkan layanan kesehatan
publik yang lebih inklusif, mudah diakses, dan berkualitas.
.png)