Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Thumbnail

Siaran Pers

CISDI Dorong Penguatan Kebijakan Pangan Sehat Lewat Pameran Photovoice dan Dialog Publik

CISDI Secretariat • 11 Sep 2026

Jakarta, 12 September 2026 – Indonesia menghadapi tantangan serius terkait meningkatnya tren prevalensi penyakit tidak menular (PTM). Produk pangan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) mendominasi lingkungan pangan di sekitar kita. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan di tengah masih terbatasnya akses terhadap opsi pangan sehat. Lemahnya regulasi pengendalian pangan tidak sehat juga merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap meningkatnya beban ekonomi dan kesehatan akibat penyakit tidak menular. 


Berdasarkan realitas tersebut, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) berkolaborasi dengan Pannafoto Institute menyelenggarakan Pameran Lensa Pangan: Memotret Realita Lingkungan Pangan Sehat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 11-13 September 2026. Pameran ini menampilkan karya dari delapan orang peserta terpilih yang telah diseleksi secara berjenjang dari total 45 orang pendaftar.


Di sela sesi pameran tersebut, CISDI menyelenggarakan sebuah dialog publik. Bertajuk Dialog Terbuka: Realitas Lingkungan Pangan Sehat, diskusi membahas tentang persoalan-persoalan publik dalam pengendalian pangan tidak sehat di Indonesia.


Chief of Policy, Advocacy, and Campaign CISDI Fachrial Kautsar dalam sambutannya menyoroti temuan studi CISDI bersama CHeNECE Universitas Airlangga yang menunjukkan 9 dari 10 produk pangan kemasan di Indonesia memiliki kandungan gula, garam, atau lemak berlebih. Temuan ini sejalan dengan studi UNICEF (2025) yang mengungkap 85% dari 20 merek makanan dan minuman terkemuka mempromosikan setidaknya satu produk yang tidak layak dipasarkan kepada anak berdasarkan Nutrient Profile Model WHO Asia Tenggara.


“Serangkaian temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih berada dalam lingkungan pangan yang didominasi produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak berlebih, sehingga diperlukan kebijakan untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat,” ujar Fachrial. 


Melalui photovoice, CISDI dan Pannafoto Institute mengajak masyarakat mendokumentasikan realitas lingkungan pangan di tingkat akar rumput sekaligus mendorong perubahan kebijakan. Photovoice juga membuka ruang bagi publik untuk memahami dan mengenal lebih dekat isu lingkungan pangan tidak sehat dari kacamata yang lebih populer.


“Pameran photovoice ini merupakan rangkaian akhir dari keseluruhan proses yang telah berjalan sebelumnya. Para peserta terpilih telah mengikuti rangkaian pelatihan storytelling melalui medium fotografi dan videografi, serta materi terkait pengendalian pangan tidak sehat. Hasil karya yang ditampilkan hari ini merupakan refleksi personal peserta atas realitas lingkungan pangan tidak sehat yang dijumpai di Indonesia, khususnya di kawasan urban seperti Jabodetabek,” ungkap Yoppy Pieter dari Pannafoto Institute. 


Andi Muhammad Rezaldy, Policy and Advocacy Specialist CISDI, menambahkan, metode photovoice dapat membawa perspektif masyarakat ke ruang pengambilan kebijakan. Keterlibatan masyarakat untuk menyuarakan perubahan lingkungan pangan yang masih didominasi pangan tidak sehat perlu didorong dengan transformasi regulasi yang mampu memberikan perlindungan efektif. “Kendati pemerintah telah memiliki Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 sebagai landasan, keberadaannya belum mampu membatasi promosi, iklan, dan pemasaran pangan tidak sehat yang kian marak. Karenanya, penguatan aturan lintas sektor dan instrumen implementasinya di lapangan masih sangat diperlukan,” ujarnya.

`

Lulu Salsabila, salah satu peserta yang karyanya dipamerkan, mengatakan kegiatan photovoice telah memberinya pemahaman lebih mendalam mengenai isu lingkungan pangan tidak sehat. Melalui pelatihan dan diskusi bersama ahli, ia menyadari lingkungan sekitar tempat tinggalnya dan bekerja penuh dengan pangan tidak sehat yang seharusnya diatur oleh pemerintah. 


Melalui pameran photovoice ini, Lulu berharap masyarakat dapat memahami bentuk-bentuk upaya pengendalian pangan tidak sehat. “Saya baru mengetahui jika ada banyak jenis label depan kemasan. Label peringatan, misalnya, sangat penting karena memudahkan masyarakat seperti saya memahami kandungan gula, garam, dan lemak serta memilih produk pangan sehat,” ungkap Lulu.


Pada sesi penutup diskusi, Andi menyampaikan pentingnya peran masyarakat mengawal implementasi kebijakan yang berbasis bukti ilmiah terbaik untuk membentuk lingkungan pangan sehat di Indonesia. Adapun kebijakan-kebijakan yang perlu didorong dan dikawal saat ini adalah:


  1. Cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) dengan kenaikan harga minimal 20% yang terbukti menurunkan konsumsi di lebih dari 100 negara.
  2. Label peringatan depan kemasan untuk produk pangan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) agar konsumen memperoleh informasi jelas.
  3. Pembatasan pemasaran produk tinggi GGL, termasuk iklan dan promosi yang menyasar anak dan remaja.


Kolase foto dari pameran Lensa Pangan: Memotret Realita Lingkungan Pangan Sehat dapat diakses melalui link:

https://bit.ly/KolasePanganSehat 


Unduh catatan kuratorial dari pameran Lensa Pangan: Memotret Realita Lingkungan Pangan Sehat melalui link:

https://bit.ly/TeksKuratorialPanganSehat 


-SELESAI-


Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah pusat kepakaran yang bertujuan memajukan pembangunan sektor kesehatan dan penguatan sistem kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi, dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.


Informasi lebih lanjut

Tim Media CISDI

0851-1139-0040

Email: [email protected]

www.cisdi.org


Terbaru