
Siaran Pers
Dari Jenewa, Swiss, CISDI Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Layanan Kesehatan Primer di WHA 2026
Hanindito Arief Buwono • 19 Mei 2026
Jenewa, 20 Mei 2026 – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menyelenggarakan side event resmi dalam World Health Assembly (WHA) 2026 bertajuk “From Chaos to Care: Rebuilding the Global Health Architecture” di Jenewa, Swiss. Side event berupa diskusi publik tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai mitra global dan pemangku kepentingan lintas sektor.
Melalui forum ini, CISDI mengajak masyarakat sipil, organisasi multilateral, akademisi, hingga sektor swasta untuk mendiskusikan kembali bagaimana arsitektur kesehatan global dapat dibangun agar lebih berkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Diskusi panel berangkat dari berbagai tantangan yang dihadapi sistem kesehatan global saat ini, seperti menurunnya kepercayaan terhadap sistem multilateral serta ketimpangan kesehatan yang masih dirasakan di banyak negara.
Pendiri dan CEO CISDI, Diah Satyani Saminarsih, mengatakan desain ulang arsitektur kesehatan global perlu memastikan kebijakan, tata kelola, dan kemitraan internasional menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan di tingkat komunitas.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah cara baru membangun kemitraan kesehatan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Solusi yang dibangun juga perlu menyesuaikan konteks lokal agar sistem kesehatan bisa lebih berkelanjutan dan benar-benar menjawab kebutuhan komunitas,” ujar Diah dalam diskusi panel.
Selain CISDI, diskusi menghadirkan David Duong, Director Program in Global Primary Health Care at the Harvard Medical School and Brigham & Women's Hospital, Dr. Kumanan Rasanathan, Executive Director of the Alliance for Health Policy and Systems Research, WHO, Lutz Hegeman, President of Global Health at Novartis, Anita Sabidi, Member and Advocate of PERSADIA Muda and International Diabetes Federation, dan Mikaël Garnier-Lavalley, Deputy Executive Head of Pandemic Fund.
Diah menjelaskan layanan kesehatan primer saat ini dihadapkan pada kekurangan investasi dan dukungan kapasitas. Padahal, layanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat tersebut telah diakui sebagai fondasi sistem kesehatan yang tangguh dan adekuat.
Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said mengatakan tantangan pada sistem kesehatan global dan layanan kesehatan primer saat ini tidak dapat dijawab oleh satu sektor saja.
“Universitas berperan penting sebagai penghubung antara realitas lokal dan pengetahuan global, agar solusi yang dibangun benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Sudirman dalam pesan pembuka yang disampaikan melalui video.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Kumanan Rasanathan yang menyoroti pentingnya pembelajaran dari berbagai praktik kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem kesehatan yang lebih efektif dan sesuai dengan konteks masing-masing negara.
Menurut Rasanathan, penguatan layanan kesehatan primer di tengah keterbatasan sumber daya global tetap perlu menjadi prioritas melalui kemitraan yang mampu mendukung kebutuhan sistem kesehatan di tingkat nasional.
“Kami bertanya, apa yang seharusnya menjadi fungsi dari arsitektur kesehatan global? Bagi sebagian besar negara, ini berkaitan dengan barang publik global. Kebutuhan akan inovasi, berbagi pengetahuan, dan penguatan kapasitas. Sudah saatnya kita menepati janji untuk bekerja sama dan berkolaborasi demi kesehatan global yang lebih baik” kata Rasanathan.
Rasanathan menuturkan, penguatan layanan kesehatan primer tidak dapat bergantung hanya pada pemerintah. Lembaga kesehatan global, dan perguruan tinggi, keterlibatan sektor swasta dinilai semakin penting untuk menghadirkan model kolaborasi yang lebih berkelanjutan.
David Duong dari Harvard Medical School menambahkan, "Kami telah menyaksikan begitu banyak laporan tentang kepercayaan terhadap sistem layanan kesehatan yang menurun secara signifikan, dimana kita gagal belajar dari orang dengan lived experience. Saya rasa dunia akademik seharusnya merefleksikan dirinya kembali sebagai pelindung kebenaran dan penyebar ilmu pengetahuan, ke depan kami perlu membawa mereka yang memiliki lived experience langsung ke garis terdepan untuk bersama-sama berkolaborasi dan membangun sistem layanan kesehatan yang lebih baik bagi semua."
Dalam forum tersebut, CISDI memperkenalkan Primary Healthcare Impact Lab (PHIL), model kolaborasi lintas sektor yang dirancang untuk menjadi pusat inovasi dan riset yang berfokus pada penguatan layanan kesehatan primer di Indonesia. PHIL dikembangkan bersama Universitas Harkat Negeri, PT Tamaris Hidro, dan Harvard Medical School.
Diluncurkan pada 7 Mei 2026 di Jakarta, PHIL berfungsi sebagai ruang riset dan dialog lintas sektor dengan konteks lokal guna menghubungkan penelitian akademik dengan kebutuhan komunitas. Bertempat di kampus UHN di Tegal, Jawa Tengah, PHIL menggandeng Harvard Medical School sebagai mitra pengetahuan dan berupaya menunjukkan bagaimana kolaborasi berbasis lokasi dapat memberikan masukan bagi diskusi kebijakan tingkat nasional.
Presiden Direktur PT Tamaris Hidro, Mohammad Syahrial, menilai tantangan global saat ini menunjukkan pendanaan internasional semakin terbatas dan pemerintah tidak dapat menangani sendiri persoalan dalam penguatan sistem kesehatan di Tanah Air. Karena itu, penguatan sistem kesehatan membutuhkan komitmen bersama, termasuk dari sektor swasta.
“Kami bergabung dengan PHIL tidak sekadar untuk memberikan dukungan simbolis, tetapi berinvestasi pada kemitraan yang kami yakini mampu menjawab kesenjangan struktural dan memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat,” ucap Syahrial dalam pesan pembuka yang disampaikan melalui video.
- SELESAI -
Tentang CISDI
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi non-profit yang bertujuan memajukan pembangunan sektor kesehatan dan penguatan sistem kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi, dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.
Informasi lebih lanjut
Tim Media CISDI
0851-1139-0040
Email: [email protected]
.png)