
Feature
Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Apa Saja Sumber Polusinya?
Hanindito Arief Buwono • 17 Sep 2026
- Kualitas udara Jakarta memburuk sepanjang Juli–September 2026, dipengaruhi puncak musim kemarau dan tingginya emisi dari berbagai sumber.
- Transportasi menjadi sumber utama polusi, menyumbang lebih dari separuh emisi PM2.5 dan PM10. Industri, sektor energi, serta PLTU batu bara di sekitar Jabodetabek juga berkontribusi.
- Solusi perlu melibatkan banyak pihak, mulai dari mendorong penggunaan transportasi umum, penyediaan data kualitas udara secara real-time, hingga upaya pemerintah seperti modifikasi cuaca dan penyemprotan air serta kampanye kesadaran masyarakat.
Sepanjang Juli-September 2026, kualitas udara di Jakarta terus memburuk hingga konsisten menempati posisi teratas kota dengan angka polusi udara tertinggi di dunia. Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, keadaan ini diperparah karena musim kemarau sedang mencapai puncaknya.
Pramono telah menempuh sejumlah cara untuk mengurangi polusi udara. Salah satunya mengupayakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menurunkan hujan. Namun, minimnya bibit awan membuat hujan sulit disemai. Walhasil, tingkat polusi udara belum dapat ditekan.
Gagal memanen hujan, Pramono mengerahkan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) untuk menyemprotkan air menggunakan berbagai peralatan yang dimiliki. Selain itu, Pramono juga meminta masyarakat beralih dari menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi umum untuk membantu mengurangi polusi udara.
Polusi udara di Jakarta terbilang tinggi dan konsisten berada pada level tidak sehat karena dikelilingi oleh berbagai sumber emisi yang terus-menerus memproduksi polutan. Dampaknya, penduduk Ibu Kota terpaksa menghirup udara kotor setiap hari.
Sumber Polusi Udara Ibu Kota
Laporan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang melakukan studi inventarisasi emisi menemukan bahwa sektor transportasi berkontribusi besar terhadap polusi udara di wilayah Jakarta.
Studi tersebut menunjukkan sektor transportasi menyumbang 56,65 persen emisi PM2.5, 56,42 persen emisi PM10, dan 38,5 persen emisi karbon hitam pada 2019. Kendaraan berat seperti truk serta bus dan mobil berbahan bakar solar tercatat sebagai sumber utama ketiga partikel polutan tersebut. Karbon hitam, PM2.5, dan PM10 sangat berbahaya jika dihirup karena dapat menyebabkan penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Analisis dari World Resources Institute (WRI) Indonesia mencatat ada 20 juta kendaraan bermotor, termasuk 13 juta sepeda motor, di wilayah Jakarta sejak 2018. Angka tersebut terus bertambah dengan laju hampir lima persen per tahun.
Selain transportasi, studi tahun 2020 menunjukkan industri manufaktur dan sektor energi berada di posisi kedua dan ketiga sebagai penyumbang emisi PM2.5 terbesar di Jakarta. Pada industri manufaktur, sumber emisi berasal dari tiga jenis kegiatan utama, yakni boiler atau ketel uap (berbahan bakar batu bara, minyak, maupun gas), serta proses produksi besi dan baja. Adapun seluruh emisi dari sektor industri energi berasal dari pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) yang beroperasi di Jakarta. Studi tersebut juga menemukan sektor manufaktur dan energi turut menjadi penyumbang polutan sekunder seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx).
Tidak hanya itu, pembangkit listrik tenaga batu bara juga menjadi sumber polusi udara lainnya yang berasal dari luar wilayah Jabodetabek, yakni ada sekitar 10 pembangkit listrik tenaga batu bara di Banten dan enam pembangkit di Jawa Barat. Hasil riset Dr. Puji Lestari dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengindikasikan polusi dari pembangkit listrik tenaga batu bara berperan dalam meningkatnya polusi udara di Jakarta. Temuan tersebut menjelaskan angin yang bertiup membawa polutan PM2.5 yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga batu bara, dari Banten maupun Jawa Barat, bisa berembus hingga wilayah Jakarta Timur ketika musim hujan.
Solusi Mengurangi Polusi Udara
Upaya mengurangi polusi udara merupakan tindakan yang sangat kompleks karena melibatkan banyak pihak. Penduduk Jakarta dan daerah penyangga, misalnya, bisa mendukung pengurangan sumber polusi udara dengan cara naik transportasi umum.
Masyarakat Jabodetabek saat ini memiliki sejumlah pilihan transportasi umum untuk menunjang mobilitas sehari-hari, seperti Bus Rapid Transit (BRT), Moda Raya Terpadu (MRT), Lintas Rel Terpadu (LRT), dan Kereta Rel Listrik (KRL). Kendati infrastruktur transportasi publik terus dikembangkan dan diperbaiki, kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama sebagian besar komuter. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 79 persen komuter Jabodetabek masih menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian ke tempat tujuan.
Sebuah penelitian di Inggris pada 2023 menangkap dampak penggunaan transportasi publik terhadap penurunan polusi udara. Penelitian tersebut mengkaji perbedaan jejak emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan sejumlah moda transportasi publik. Hasilnya, London Underground, salah satu layanan kereta komuter di Inggris, menghasilkan emisi karbon dioksida 75 persen lebih rendah dibandingkan sepeda motor. Emisi CO2 dari kereta komuter juga 83 persen lebih rendah daripada mobil berbahan bakar bensin dan bahkan 40 persen lebih rendah ketimbang mobil listrik.
Selain masyarakat, pemerintah juga punya andil besar untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta. Caranya dengan memperkuat kebijakan yang terbukti efektif mengurangi dampak polusi udara. Pemerintah, antara lain, dapat menyuguhkan data kualitas udara yang akurat secara real-time untuk diakses publik. Dengan begitu, masyarakat bisa mengambil keputusan yang tepat dalam melindungi dari paparan polusi udara.
Sebagai bagian dari masyarakat sipil, CISDI telah menginisiasi Langit Biru Project, sebuah kampanye yang bertujuan menggerakan komunitas di Jabodetabek untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam isu polusi udara. Inisiatif yang digagas CISDI sejak akhir 2025 ini bertujuan untuk mengajak masyarakat dan berbagai komunitas di DKI Jakarta, Kota Bekasi, dan Kota Tangerang Selatan agar bisa lebih memahami pentingnya kualitas udara serta mengambil langkah untuk melindungi diri dari dampak polusi. Informasi lebih lengkap mengenai Langit Biru Project dapat diakses melalui tautan berikut.
-SELESAI-
.png)