Thumbnail
Siaran Pers

Berdampak Ganda, Cukai Minuman Berpemanis Untungkan Negara hingga Rp 40 Triliun dan Cegah Potensi 450 Ribu Kematian Akibat Diabetes

Amru Aginta Sebayang • 7 Mar 2024

Jakarta, 7 Maret 2024 - Cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) semakin mendesak diterapkan. Riset terbaru Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menunjukkan implementasi cukai minuman berperisa dapat memberikan dampak ganda yang positif. Selain manfaat ekonomi, penerapan cukai MBDK juga dapat mengurangi beban kasus diabetes melitus tipe 2 di Indonesia hingga 2033.


“Pemberlakuan cukai MBDK dapat mengurangi angka penderita diabetes melitus tipe 2 dan dapat mencegah potensi 455.310 kasus kematian kumulatif akibat penyakit tersebut dalam sepuluh tahun ke depan,” kata Muhammad Zulfiqar Firdaus, Health Economics Research Associate CISDI, dalam peluncuran riset (7/3).


Penelitian terbaru CISDI menyebutkan, kenaikan harga MBDK sebesar 20 persen berpotensi menurunkan konsumsi minuman berpemanis dan gula harian rata-rata sebanyak 5,4 gram untuk laki-laki dan 4,09 gram untuk perempuan. Berdasarkan perhitungan pemodelan ekonomi, penurunan angka konsumsi ini akan mencegah 253.527 kasus overweight dan 502.576 kasus obesitas hingga 2033.


"Cukai terbukti memiliki efek edukasi. Penerapan cukai akan membuat masyarakat bertanya mengapa dan akan mendorong mereka mencari tahu lebih lanjut mengenai konsumsi suatu produk," ujar Zulfiqar. 


Riset ini juga menunjukkan kasus diabetes melitus tipe 2, salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, bakal mencapai 8.949.768 kasus kumulatif hingga 2033 jika cukai tidak segera diberlakukan. “Namun, apabila cukai MBDK diterapkan mulai 2024, kasus baru diabetes melitus tipe 2 diproyeksikan menurun signifikan menjadi 5.854.125 kasus. Artinya, sebanyak 3.095.643 kasus baru kumulatif dapat dicegah dalam satu dekade,” ungkap Olivia Herlinda, Chief Policy and Research CISDI, dalam kesempatan terpisah.


Berdasarkan pemodelan ekonomi yang dilakukan CISDI, tanpa cukai, jumlah kematian kumulatif akibat diabete melitus tipe 2 diperkirakan meningkat setiap tahun hingga 1.393.417 pada 2033. Sebaliknya, dengan penerapan cukai minuman berpemanis, potensi angka kematian tersebut dapat ditekan hingga sepertiganya.


Soewarta Kosen, Research Principal Investigator CISDI, yang terlibat dalam riset ini, menambahkan bahwa wacana penerapan cukai MBDK sebenarnya pernah dikaji bersama dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan, sekitar delapan tahun yang lalu. 


“Namun karena banyak faktor, wacana ini terhenti dan Indonesia akhirnya tertinggal dari negara-negara ASEAN yang lain dalam pemberlakuan cukai minuman berpemanis," kata dia..


Tim peneliti CISDI menghitung instrumen bernama Disability-Adjusted Life Years atau DALYs untuk mengetahui beban ekonomi akibat kematian dan disabilitas yang berasal dari penyakit diabetes melitus tipe 2.


Berdasarkan perhitungan CISDI, dengan hilangnya kedua beban tersebut, Indonesia mampu menghemat biaya langsung atau biaya pengobatan akibat diabetes melitus tipe 2 sebesar Rp 24,9 triliun dan biaya tidak langsung atau kerugian akibat hilangnya produktivitas ekonomi karena diabetes sebesar Rp 15,7 triliun.


Indonesia dapat menghemat hingga Rp 40,6 triliun dari penerapan cukai MBDK yang dapat menaikkan harga jual produk MBDK di pasar paling tidak sebesar 20 persen,” kata Olivia.


Bahkan sesungguhnya, apabila cukai MBDK diterapkan, dampak positif di sektor kesehatan dan ekonomi dapat jauh lebih luas mengingat studi ini terbatas hanya menganalisa beban penyakit diabetes melitus tipe 2 akibat keterbatasan data. Sedangkan, banyak penyakit tidak menular (PTM) lain yang dapat timbul akibat konsumsi MBDK berlebihan. Dikarenakan pertimbangan tersebut, CISDI memberikan empat rekomendasi kepada pemerintah:


  1. Terapkan segera cukai MBDK yang dapat meningkatkan harga jual produk MBDK di pasar minimal 20 persen.
  2. Alokasikan hasil pungutan cukai untuk membiayai program dan fasilitas kesehatan masyarakat.
  3. Terapkan kebijakan yang mendukung terbentuknya gaya hidup dan lingkungan sehat, seperti pelabelan gizi pada bagian depan kemasan dan pelarangan iklan produk mengandung garam, gula, dan lemak tinggi.
  4. Kembangkan edukasi dan promosi kesehatan tentang dampak konsumsi gula berlebihan.


Unduh riset lengkap di s.id/BODStudyCISDI


-SELESAI-


Tentang CISDI

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah organisasi non-profit yang bertujuan memajukan pembangunan sektor Kesehatan dan penguatan sistem Kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.


Informasi lebih lanjut

Amru Sebayang

Senior Media Officer 

+62 877 8273 4584

Email: communication@cisdi.org 

www.cisdi.org




Terbaru