Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Thumbnail

Feature

Tak Sekadar Tempat Jajan, Kantin Bisa Membentuk Lingkungan Pangan Sehat

Hanindito Arief Buwono9 Juli 2026

Kesimpulan > Penerapan Kantin Sehat Jakarta menjadi langkah strategis untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat, menekan angka obesitas dan penyakit tidak menular, serta membangun kebiasaan makan bergizi melalui penyediaan makanan sehat, edukasi gizi, dan pembinaan pengelola kantin.

Pola konsumsi masyarakat urban terus mengalami perubahan. Saat ini, kemudahan akses terhadap makanan dan minuman siap saji menjadi tantangan tersendiri bagi penduduk perkotaan karena berdampak pada meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular.


Penyakit tidak menular dapat mengintai seiring dengan meningkatnya konsumsi pangan tinggi gula, garam, dan lemak yang turut berkontribusi terhadap obesitas, diabetes, hingga hipertensi.


DKI Jakarta, sebagai kawasan perkotaan yang menampung lebih dari 11 juta jiwa, saat ini sedang dihadapkan pada tingginya berbagai penyakit tidak menular. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi berat badan berlebih dan obesitas di Ibu Kota lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional pada seluruh kelompok umur.


Selain itu, mengacu data yang sama, prevalensi obesitas pada kelompok usia 5-12 tahun mencapai 12,7 persen. Jumlah ini sangat jauh di atas angka nasional sebesar 6,8 persen dan kondisi serupa juga terlihat pada kelompok remaja dan dewasa.


Tidak hanya itu, penelitian CISDI pada 2022 menunjukkan \Jakarta menempati peringkat ketiga provinsi dengan proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) tertinggi di Indonesia. Sedikitnya 44,26 persen atau nyaris separuh rumah tangga di Jakarta mengkonsumsi MBDK.


Masih tingginya prevalensi obesitas dan kelebihan berat badan tidak lepas dari belum sehatnya lingkungan pangan di Jakarta. Lingkungan pangan tak sehat ini–akrab disebut lingkungan obesogenik–mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan dan kurang bergerak sehingga memicu obesitas dan risiko penyakit tidak menular.


Di Jakarta, keberadaan kantin berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan obesogenik. Bagi pelajar dan pekerja, kantin merupakan tempat makan sekaligus urat nadi pemenuhan gizi harian yang cepat dan terjangkau. Sayangnya, kebanyakan kantin sekolah dan perkantoran di Jakarta belum memfasilitasi pilihan pangan yang sehat secara optimal. Pedagang kantin umumnya menjual produk makanan dan minuman yang paling cepat laku, murah diproduksi, dan disukai konsumen (terutama anak-anak).


Mengapa Kantin Sehat Penting?

Kantin berperan penting dalam membentuk lingkungan pangan yang lebih sehat. Sebab, kantin memiliki fungsi tidak hanya sebagai penyedia makanan, tetapi juga ruang sosial untuk berinteraksi hingga edukasi literasi gizi.


Salah satu contoh kantin yang biasa ditemukan di Indonesia adalah kantin sekolah. Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar secara akademik, namun juga berperan membentuk kebiasaan makan pada anak. Penelitian di Kota Surabaya pada 2024 menunjukkan anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah dan memperoleh porsi konsumsi hariannya dari makanan yang tersedia di lingkungan tersebut.


Masalahnya, kondisi lingkungan pangan sekolah di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Berdasarkan studi Nutrition Environment Assessment Tool for Schools (NEAT-S) yang dilakukan UNICEF Indonesia pada 2025, lingkungan pangan sekolah di Indonesia umumnya masih memiliki keterbatasan akses terhadap pilihan makanan sehat dan bergizi.


Dalam studi tersebut, kantin sekolah biasanya hanya menawarkan pilihan makanan dan minuman sehat dengan harga terjangkau yang terbatas. Selain itu, produk pangan ultra proses tinggi gula, garam, dan lemak masih lazim ditemukan di dalam sekolah maupun dari pedagang kaki lima di sekitar sekolah.


Studi UNICEF Indonesia juga menemukan masih maraknya pemasaran produk makanan tidak sehat di dalam maupun sekitar lingkungan sekolah yang bisa membentuk pola konsumsi pangan tidak sehat sejak anak usia belia.


Penerapan Kantin Sehat di Berbagai Negara

Berbagai negara telah mengupayakan lingkungan pangan sehat di kantin agar membatasi konsumsi produk pangan tinggi gula, garam, dan lemak.


Pemerintah Australia, misalnya, melarang penjualan semua jenis minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di kantin sekolah. Kebijakan ini juga mengatur 75 persen komponen menu di kantin sekolah harus terdiri dari bahan pangan segar. Adapun penggunaan pangan ultra-proses dibatasi tidak melebihi 25 persen komponen menu.


Negeri jiran Malaysia juga menerapkan kebijakan serupa. Pemerintah Malaysia merilis makanan dan minuman yang diperbolehkan, tidak direkomendasikan, dan tidak diperbolehkan dijual di sekolah.Selain itu, pemerintah Malaysia juga mengatur pedagang kaki lima, kios, hingga rumah makan yang berada dalam radius 40 meter dari sekolah melalui pemberian sertifikasi serta supervisi kepatuhan penjualan makanan.


Di Amerika Latin, Brasil menerapkan program kantin sehat dengan melibatkan School Nutrition Councils (CAE) yang terdiri dari komponen masyarakat sipil untuk mengawasi program. Pemerintah Brasil juga merilis daftar makanan dan minuman yang diperbolehkan, tidak direkomendasikan, dan dilarang dijual di sekolah agar siswa bisa membatasi konsumsi produk tinggi gula, garam, dan lemak.


Dari Kantin Menuju Lingkungan Pangan Sehat

Berkaca dari kondisi di Indonesia dan kisah sukses penerapan kantin sehat di berbagai negara, CISDI bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi mengembangkan inisiatif Kantin Sehat Jakarta melalui program kemitraan Partnership for Healthy Cities.


Program Kantin Sehat Jakarta tidak hanya berfokus pada kantin yang berada di dalam sekolah. Salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan adalah memperluas cakupan intervensi hingga area di sekitar satuan pendidikan serta perkantoran, fasilitas layanan kesehatan, hingga fasilitas publik lainnya.


Perluasan cakupan ini ditujukan agar kantin sehat menjangkau masyarakat usia dewasa produktif. Sebab, angka kelebihan berat badan pada kelompok usia tersebut mencapai 15,2 persen dan obesitas 31,8 persen. Angka tersebut lebih besar dari rata-rata nasional, yaitu 14,3 persen untuk berat badan berlebih dan 23,4 persen untuk obesitas.



Kantin sehat Jakarta hadir untuk mengurangi angka penyakit tidak menular.

Tabel 1: Angka kelebihan berat badan dan obesitas di DKI Jakarta. (Dok: CISDI)


Perluasan sasaran intervensi Kantin Sehat Jakarta bertujuan mewujudkan kawasan rendah gula, garam, dan lemak  sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan untuk mendukung pencegahan penyakit tidak menular melalui lingkungan pangan lebih sehat.


Pendekatan Kantin Sehat Jakarta tidak hanya ditujukan pada pengelola kantin sekolah. Pedagang makanan dan minuman di perkantoran, fasilitas layanan kesehatan, hingga fasilitas publik lainnya juga didorong menjadi bagian dari lingkungan pangan sehat melalui program ini. Dengan memperbanyak Kantin Sehat Jakarta di berbagai tempat, anak usia sekolah, remaja, hingga kelompok dewasa produktif akan lebih mudah mengakses pilihan pangan sehat.


Untuk mengoptimalkan implementasi program Kantin Sehat Jakarta, pengelola kantin dan penjamah pangan akan  mendapatkan pelatihan, pembinaan, dan pendampingan. Dukungan ini diperlukan untuk memastikan pengelola kantin dapat menyediakan pilihan makanan dan minuman yang lebih sehat sekaligus tetap berkelanjutan dari sisi usaha.


Selain mewujudkan lingkungan pangan sehat, program Kantin Sehat Jakarta juga diharapkan dapat mendorong terbentuknya kebiasaan makan sehat sejak dini.


-SELESAI -


Terbaru