Feature
Penyakit Tidak Menular: Ancaman Senyap di Era Modern
Hanindito Arief Buwono • 8 Jan 2026
Pemberantasan penyakit tidak menular menjadi tantangan tersendiri di berbagai negara belakangan ini. Harian Kompas memberitakan hasil laporan dari Non-communicable Disease Alliance (NCD Alliance) tentang 19 negara yang masih berada pada jalur yang tepat dalam mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dari PBB.
Hasil laporan tersebut menunjukkan berbagai negara menghadapi tantangan untuk bisa mengurangi faktor pemicu penyakit tidak menular, seperti banyaknya peredaran serta konsumsi makanan olahan ultra-proses dan minuman berpemanis. NCD Alliance menjelaskan banyak negara mesti berhadapan dengan industri–dan seringkali berkompromi–sehingga mengurangi komitmen pengendalian penyakit tidak menular.
Padahal, beban penyakit tidak menular meningkat dan bahkan mengakibatkan 43 juta orang meninggal setiap tahun. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, jumlah kematian akibat penyakit tidak menular pada usia di bawah 40 tahun bahkan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah akibat penyakit menular, seperti HIV dan TBC.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara dengan 47,5 persen masyarakatnya mengkonsumsi minuman berpemanis lebih dari sekali setiap hari, tentu menjadi kekhawatiran tersendiri karena risiko penyakit tidak menular semakin tinggi. Jumlah penderita diabetes tipe 2, penyakit yang diasosiasikan dengan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, terbilang tinggi yaitu sebesar 50,2 persen pada 2023.
Pemerintah tengah mengupayakan sejumlah kebijakan untuk mencegahnya. Kementerian Kesehatan, misalnya, berencana memberlakukan aturan label depan kemasan pangan ala Nutri-Grade seperti di Singapura. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan langkah ini diambil karena kasus obesitas hingga diabetes terus meningkat, termasuk pada kelompok anak. Melalui label depan kemasan, masyarakat akan lebih mudah mengenali makanan ataupun minuman yang sehat. Tidak seperti sistem saat ini yaitu dengan penerapan label sukarela “Pilihan Lebih Sehat” dan “Guideline Daily Amount (GDA) monokrom” secara bersamaan yang lebih rumit serta membingungkan konsumen.
Selain melalui kebijakan, masyarakat juga perlu dilindungi dari paparan produk makanan-minuman tidak sehat melalui edukasi tentang penyakit tidak menular.
Apa Itu Penyakit Tidak Menular?
Menurut WHO, penyakit tidak menular adalah penyakit kronis yang cenderung berlangsung lama dan merupakan hasil kombinasi faktor genetik, fisiologis, lingkungan, serta perilaku.
Jenis utama penyakit tidak menular adalah penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan stroke), kanker, penyakit pernapasan kronis (penyakit paru obstruktif kronis dan asma), serta diabetes.
Penyakit tidak menular secara tidak proporsional mempengaruhi penduduk di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di negara-negara ini, hampir tiga perempat kematian (32 juta) disebabkan penyakit tidak menular.
WHO menjelaskan bahwa anak-anak, orang dewasa, hingga lansia bisa terkena dampak penyakit tidak menular. Ada berbagai faktor risiko mencakup perilaku, metabolik, dan lingkungan, seperti pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, paparan asap rokok, konsumsi alkohol, hingga polusi udara yang berbahaya.
Selain itu, pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik pada seluruh kelompok usia tersebut dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah, peningkatan kolesterol darah, hingga obesitas.
Mengapa Penting Mencegah Penyakit Tidak Menular?
Penelitian UNICEF mengungkapkan Indonesia sedang mengalami peningkatan drastis kasus kelebihan berat badan dan obesitas yang merupakan faktor risiko utama penyakit tidak menular. Pendorong utama dari meningkatnya penyakit tidak menular pada masyarakat Indonesia adalah karena pola makan dengan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) secara berlebihan.
Tidak hanya itu, Studi Beban Penyakit Global (IHME, 2021) juga menyebutkan bahwa terdapat perubahan tren penyebab mortalitas tertinggi di Indonesia dalam tiga dekade terakhir, yaitu penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Beberapa penyakit seperti kardiovaskular, diabetes, dan gagal ginjal masuk dalam jajaran penyebab kematian di Indonesia.
Survei Kesehatan Indonesia (2023) juga menunjukkan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) dengan berperisa tinggi turut meningkatkan risiko kejadian obesitas dan sederet penyakit tidak menular lainnya, seperti diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, hingga kanker.
Hasil beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat hidup dalam kepungan produk-produk makanan dan minuman yang tidak sehat. Karenanya, pemerintah perlu melindungi kesehatan masyarakat dengan mengeluarkan kebijakan yang bisa efektif menurunkan konsumsi produk makanan dan minuman tinggi GGL serta meningkatkan pola hidup sehat di masyarakat.
Cara Mencegah Penyakit Tidak Menular
Salah satu strategi untuk mencegah penyakit tidak menular adalah menerapkan kebijakan label depan kemasan pangan. Instrumen kebijakan ini terbukti di banyak negara dapat mendorong pola makan sehat serta mengendalikan dan mencegah penyakit tidak menular.
Selain itu, label depan kemasan pangan bertujuan meningkatkan kesadaran konsumen terhadap kandungan GGL dalam produk makanan dan minuman olahan. Melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, pengendalian konsumsi GGL adalah target intervensi dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular.
Berbagai studi telah membuktikan bahwa kebijakan label depan kemasan pangan efektif membuat masyarakat mengubah perilaku mereka untuk mengkonsumsi minuman dan makanan sehat. Penelitian pada 2020 dan 2021 menyebutkan label depan kemasan pangan mendorong masyarakat memilih makanan dan minuman yang lebih sehat, sehingga dapat berkontribusi pada penurunan risiko penyakit tidak menular.
Tidak hanya itu, sebuah penelitian di Indonesia pada 2025 menunjukkan label peringatan dianggap mempermudah konsumen mengidentifikasi makanan tidak sehat, sehingga mencegah mereka untuk membeli produk tinggi GGL yang bisa memicu risiko penyakit tidak menular.
CISDI konsisten mendorong penerapan kebijakan label depan kemasan berupa label peringatan karena terbukti jauh lebih efektif untuk menekan pembelian produk tinggi GGL. Beberapa penelitian sudah membuktikan bahwa label peringatan efektif dalam mendorong perilaku belanja pangan lebih sehat dan sangat mudah dimengerti bagi konsumen sehingga dapat langsung membuat keputusan dengan cepat.
CISDI juga sudah membuat FAQ mengenai label depan kemasan yang bisa diakses secara luas. Baca FAQ tersebut melalui tautan berikut.
-SELESAI-
.png)