Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Thumbnail

Feature

Penguatan Kader Tingkatkan Layanan Gizi Inklusif di Depok dan Bekasi

Hanindito Arief Buwono5 Agu 2026

Kesimpulan > Program PN-PRIMA CISDI meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan kader posyandu melalui pelatihan berjenjang untuk menghadirkan layanan gizi balita yang lebih inklusif, berkualitas, dan berbasis digital.

Sejak 2021, CISDI telah meluncurkan program PN-PRIMA (Pencerah Nusantara: Puskesmas Responsif, Inklusif, dan Masyarakat Bersama) sebagai respons atas kebutuhan mendesak untuk kesiapan sistem kesehatan yang inklusif. PN-PRIMA membantu penguatan layanan kesehatan oleh kader kesehatan, salah satunya melalui intervensi gizi terhadap kelompok rentan seperti balita dengan masalah gizi.


Layanan gizi balita yang berkualitas tidak hanya bergantung pada ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga pada kapasitas sumber daya manusia yang mendampingi keluarga di tingkat komunitas. Untuk memastikan setiap balita, termasuk mereka yang berada dalam kondisi rentan, dibutuhkan tenaga kesehatan dan fasilitator lapangan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, serta pendekatan komunikasi yang tepat.


Untuk menjawab kebutuhan tersebut, CISDI melalui PN-PRIMA memberikan training of trainer (ToT) kepada fasilitator lapangan (field facilitator) dan tenaga kesehatan puskesmas yang nantinya akan menjadi pelatih untuk kader posyandu. Sehingga kapasitas kader meningkat terutama dalam memberikan layanan kesehatan gizi yang inklusif di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.


Melalui ToT, tenaga kesehatan dan field facilitator membantu kader kesehatan dalam meningkatkan keterampilan pengukuran, edukasi dan komunikasi dengan empati, serta membekali mereka dengan keterampilan digital melalui penggunaan aplikasi PN-PRIMA. Setelah mengikuti pelatihan, tenaga kesehatan dan field facilitator berperan sebagai fasilitator utama yang akan memimpin pelatihan kader kesehatan di wilayah masing-masing, dengan pendampingan dari CISDI untuk menjaga kualitas implementasi pelatihan.


Pelatihan Partisipatif untuk Nakes dan Fasilitator Lapangan

Sebanyak 25 tenaga kesehatan dan fasilitator lapangan mengikuti pelatihan training of trainer (ToT) di Jakarta Pusat pada 17-18 September 2025. Para peserta berasal dari 12 puskesmas PN-PRIMA yang didampingi CISDI di wilayah Kabupaten Bekasi dan Kota Depok.


Pelatihan ini dirancang agar field facilitator dan tenaga kesehatan dapat memahami konsep program gizi balita secara inklusif, menerapkan strategi komunikasi yang empatik, memahami prosedur pencatatan kegiatan pendampingan gizi balita menggunakan aplikasi PN-PRIMA, dan memahami fungsi serta fitur-fitur dalam aplikasi PN-PRIMA versi 2.0. Peserta pelatihan mengikuti serangkaian bentuk pembelajaran, antara lain simulasi (role play), demonstrasi, ceramah, diskusi, dan studi kasus. 


Tenaga kesehatan dan field facilitator sedang mengikuti pelatihan ToT.

Foto 1: Tenaga kesehatan dan field facilitator sedang mengikuti pelatihan ToT. (Dok: CISDI)


Pada hari pertama, peserta diberikan materi mengenai penguatan pemahaman program gizi balita secara inklusif. Sesi ini memberikan pemahaman kepada peserta tentang alur pendampingan balita dengan berbagai kondisi gizi, praktik pengukuran antropometri sesuai standar, hingga mengidentifikasikan faktor risiko yang mempengaruhi status gizi pada balita. Menariknya, peserta pelatihan berkesempatan bermain peran dengan teman tuli dan teman netra dari SEHATARA. Sesi ini dirasa paling bermanfaat oleh peserta karena mereka dapat memahami langsung tantangan yang dihadapi orang dengan disabilitas sekaligus belajar teknik dasar berkomunikasi yang disampaikan langsung teman tuli dan teman netra.


Kemudian, pelatihan dilanjutkan mengenai penerapan prinsip inklusif secara keberlanjutan pada pelayanan gizi balita. Peserta diajak untuk mengidentifikasi berbagai bentuk kerentanan keluarga, memahami hubungan antara kerentanan sosial dan status gizi anak, memberikan edukasi tentang kesetaraan dalam pengasuhan, hingga berkomunikasi secara sensitif dengan kelompok disabilitas.


Pada hari kedua, peserta mengikuti pelatihan pengenalan dan praktik penggunaan aplikasi PN-PRIMA 2.0. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk mempelajari standar operasional dan prosedur pendataan digital, pemanfaatan fitur notifikasi risiko dan pengingat kunjungan ke layanan kesehatan, hingga mekanisme rujukan dan tindak lanjut. Selain itu, peserta juga terlibat dalam diskusi aktif dan memberikan masukan untuk pengembangan aplikasi agar mudah digunakan oleh kader kesehatan di lapangan.


Pelatihan tenaga kesehatan dan field facilitator diakhiri dengan sesi mengasah strategi komunikasi empatik. Pada sesi ini, peserta berlatih teknik komunikasi antarpribadi dan mendengarkan aktif, menyampaikan hasil pengukuran tanpa menyalahkan, hingga memberikan dukungan psikologis dan penguatan positif.


Transfer Pengetahuan kepada Kader Kesehatan

Setelah mengikuti training of trainer, giliran tenaga kesehatan dan field facilitator membagikan pengetahuan dan keterampilan mereka kepada kader PRIMA di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi. Sebanyak 354 kader mengikuti pelatihan dan mentoring yang digagas CISDI pada 22 September-11 Oktober 2025.


Kader PRIMA memperoleh pelatihan dan mentoring dari tenaga kesehatan serta field facilitator mengenai layanan gizi balita yang inklusif, praktik pengukuran antropometri sesuai standar, strategi komunikasi empatik, serta penggunaan aplikasi PN-PRIMA sebagai alat bantu pencatatan pendampingan layanan gizi balita.


Proses pembelajaran dilakukan melalui berbagai metode, seperti ceramah, demonstrasi, diskusi, bermain peran (role play), hingga latihan praktik agar kader dapat menerapkan materi sesuai dengan konteks di lapangan.


Sesi foto bersama Kepala Puskesmas Cibarusah, Kabupaten Bekasi.

Foto 2: Sesi foto bersama Kepala Puskesmas Cibarusah, Kabupaten Bekasi. (Dok: CISDI)


Hasil dari pelatihan dan mentoring menunjukkan 68 persen dari 187 kader PRIMA di Kota Depok (128 orang) mengalami peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan aplikasi PN-PRIMA, komunikasi empatik, hingga prinsip layanan gizi balita inklusif. Adapun di Kabupaten Bekasi, sebanyak 71 persen dari 167 kader (120 orang) juga mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti rangkaian pelatihan.


Peningkatan pengetahuan ini menunjukkan sebagian besar kader PRIMA yang mengikuti sesi mentoring dan pelatihan telah memahami cara memberikan layanan gizi balita secara lebih inklusif, tanpa diskriminasi, serta mampu menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam penggunaan aplikasi PN-PRIMA.


Melalui pendekatan ini, PN-PRIMA tidak hanya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan field facilitator sebagai fasilitator pelatihan. Program intervensi kesehatan besutan CISDI tersebut juga mendukung peningkatan kapasitas kader kesehatan dalam memberikan layanan gizi balita yang lebih inklusif dan berkualitas bagi komunitas.


Pelaksanaan training of trainer menunjukkan pengembangan kapasitas tenaga kesehatan dan field facilitator merupakan langkah awal yang penting dalam memperkuat peran kader kesehatan di masyarakat. Melalui mekanisme ini, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kader kesehatan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh komunitas. 


-SELESAI-


Terbaru