
Feature
Cakupan Kesehatan Semesta: Pentingnya Layanan Kesehatan Primer sebagai Fondasi Utama
Hanindito Arief Buwono • 29 Okt 2026
- UHC Indonesia masih tertinggal dengan indeks 67 pada 2025 akibat kesenjangan akses dan kualitas layanan kesehatan.
- Penguatan layanan kesehatan primer penting untuk pemerataan akses, deteksi dini penyakit, dan perlindungan finansial masyarakat.
- CISDI melalui PN-PRIMA memperkuat tenaga kesehatan dan kader, serta telah menjangkau 34.727 orang hingga 2025.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 menyebutkan indeks universal health coverage (UHC) atau cakupan kesehatan semesta Indonesia sebesar 67. Meski meningkat dibanding tahun sebelumnya, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia (80), Filipina (69), Singapura (88), dan Thailand (82).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan alasan mengapa capaian cakupan kesehatan semesta di Indonesia rendah. Menurut Budi, salah satu penyebabnya adalah adanya kesenjangan akses pada layanan kesehatan masyarakat.
Budi mengakui akses dan kualitas layanan kesehatan di Indonesia masih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat. Misalnya, Kementerian Kesehatan mencatat baru 80 dari 514 kabupaten dan kota yang memiliki layanan penyakit katastropik setara Jakarta. Padahal, layanan penyakit katastropik sangat penting karena penyakit ini, seperti penyakit jantung, stroke, ginjal, dan kanker, memerlukan perawatan medis jangka panjang serta menelan biaya yang sangat besar.
Data tersebut menunjukkan sistem kesehatan yang dimiliki Indonesia belum adil dan merata. Karena itu, Budi menyampaikan pemerintah akan berfokus memperbaiki ketersediaan layanan kesehatan melalui peningkatan jumlah fasilitas kesehatan, alat kesehatan, dan tenaga kesehatan.
Selain itu, Budi juga mengatakan pemerintah akan mendorong adanya keseimbangan antara tarif dan kualitas layanan guna memastikan keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Untuk bisa mencapai cakupan kesehatan semesta, pemerintah Indonesia perlu memastikan setiap orang di mana pun dan kapan pun bisa mengakses layanan kesehatan yang bermutu. Selain itu, ketika masyarakat membutuhkan layanan tersebut, mereka harus dipastikan mendapatkan perlindungan finansial.
Apa Itu Cakupan Kesehatan Semesta
Menurut WHO, cakupan kesehatan semesta berarti semua orang memiliki akses terhadap seluruh rangkaian layanan kesehatan berkualitas yang dibutuhkan, kapan pun dan di mana pun mereka membutuhkannya, tanpa mengalami kesulitan keuangan.
Cakupan kesehatan semesta meliputi seluruh rangkaian layanan kesehatan esensial sepanjang kehidupan, mulai dari promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, rehabilitasi, hingga perawatan paliatif.
Namun, World Bank mencatat bahwa cakupan layanan kesehatan mengalami stagnasi sejak 2015. Dalam datanya, World Bank memaparkan sekitar 4,6 miliar orang belum memiliki akses terhadap layanan kesehatan esensial, sementara 2 miliar orang masih mengalami kesulitan keuangan yang berat akibat pengeluaran untuk layanan kesehatan.
Saat ini, WHO melaporkan bahwa Indonesia terus menunjukkan kemajuan dalam memastikan setiap orang dapat mengakses layanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa kesulitan keuangan. Namun, Indonesia masih dihadapkan berbagai tantangan, seperti tingkat pengobatan dan deteksi yang masih rendah pada penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes.
Selain itu, WHO juga menemukan sebaran tenaga kesehatan di Indonesia juga perlu ditingkatkan karena banyak komunitas, terutama di daerah perdesaan, mengalami kekurangan tenaga kesehatan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Penguatan Layanan Kesehatan Primer untuk Memperluas Cakupan Kesehatan Semesta
Untuk mencapai cakupan kesehatan semesta, layanan kesehatan primer yang bermutu dan mudah dijangkau perlu diwujudkan. Sebagai lini terdepan, layanan kesehatan primer seperti puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), dan posyandu didirikan di kecamatan hingga dusun supaya masyarakat bisa memperoleh layanan kesehatan merata.
Penguatan layanan kesehatan primer berperan sangat krusial dalam mencegah perburukan penyakit menjadi katastropik, antara lain melalui skrining dan deteksi dini hipertensi, diabetes, jantung, dan penyakit lainnya. Dengan begitu, beban pembiayaan dan ketergantungan pada fasilitas rujukan lanjut dapat dikurangi.
Pemerintah saat ini terus berupaya memperkuat dan memperluas cakupan kesehatan semesta dengan berfokus pada tiga indikator utama yaitu akses, cakupan, dan perlindungan finansial kepada masyarakat. Salah satu caranya dengan memperkuat sistem layanan kesehatan primer, seperti meningkatkan cakupan layanan di seluruh daerah, serta memastikan semua orang memiliki akses untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas tanpa hambatan finansial.
Layanan kesehatan primer berperan penting dalam mewujudkan cakupan kesehatan semesta karena berakar pada komunitas yang dilayaninya. Kehadiran layanan kesehatan primer bisa menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari perkotaan, sehingga kebutuhan mereka akan perawatan kesehatan yang berkualitas bisa terjawab.
Peran CISDI Melalui Pencerah Nusantara
Berangkat dari kepedulian yang sama, CISDI turut memperkuat layanan kesehatan primer melalui Pencerah Nusantara. Berjalan sejak 2012, program ini berfokus pada penguatan layanan kesehatan primer dan mendorong puskesmas bekerja lebih dekat dengan komunitas.
Dalam perjalanannya, Pencerah Nusantara telah mengalami beberapa bentuk transformasi utama. Sejak 2022, Pencerah Nusantara bertransformasi menjadi Pencerah Nusantara: Puskesmas Responsif, Inklusif, Masyarakat Aktif Bermakna (PN-PRIMA). Berlokasi di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, PN-PRIMA berfokus pada penguatan layanan yang memadukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader kesehatan dengan pendekatan berbasis komunitas serta dukungan teknologi digital.
Pada 2024, PN-PRIMA telah berjalan di 12 puskesmas dengan fokus pada kesehatan ibu dan anak, penyakit tidak menular, perbaikan gizi balita, dan imunisasi baduta. Dalam program tersebut, kader kesehatan menjadi fokus dari penguatan layanan karena berperan menjembatani puskesmas dengan masyarakat di tingkat komunitas.
Untuk memperkuat peran tersebut, CISDI bersama puskesmas telah meningkatkan kapasitas 465 kader PRIMA di 38 posyandu yang didampingi. Kader kesehatan mendapatkan penguatan melalui pelatihan dan pendampingan untuk mendukung deteksi dini serta pendampingan kelompok yang membutuhkan perhatian, termasuk balita dengan masalah gizi hingga masyarakat dengan penyakit tidak menular.
Penguatan tersebut juga didukung dengan pemanfaatan teknologi digital. Bersama mitra, CISDI mengembangkan aplikasi Pencerah Nusantara, termasuk modul PN-PRIMA, sebagai alat pendukung bagi tenaga kesehatan dan kader kesehatan dalam menjalankan layanan di tingkat komunitas.
Program PN-PRIMA telah berkontribusi terhadap cakupan kesehatan semesta terutama lewat penguatan akses layanan kesehatan primer di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi. PN-PRIMA telah membantu kader kesehatan menjangkau warga, melakukan skrining, serta mendampingi dan menghubungkan mereka ke layanan puskesmas. Di Depok dan Kabupaten Bekasi, total terdapat 34.727 orang yang dilayani selama program PN-PRIMA berjalan hingga 2025.
Pengalaman CISDI melalui PN-PRIMA menunjukkan bahwa penguatan layanan kesehatan primer membutuhkan dukungan yang terintegrasi, mulai dari peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader kesehatan, pemanfaatan teknologi digital, hingga keterlibatan aktif masyarakat. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendorong tercapainya cakupan kesehatan semesta, dengan memastikan masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan yang bermutu sesuai kebutuhan tanpa menghadapi hambatan finansial.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kerja CISDI di bidang penguatan layanan kesehatan primer, bisa cek tautan berikut.
-SELESAI-
.png)