Lompat ke konten utama
Logo CISDI: Simbol kolaborasi tiga pilar strategis—riset, advokasi, dan peningkatan kapasitas—untuk kemajuan kesehatan Indonesia.
Thumbnail

Feature

Layanan Kesehatan Primer: Garda Terdepan Menghadapi Krisis Kesehatan

Hanindito Arief Buwono • 8 Okt 2026

Kesimpulan
  • Layanan kesehatan primer di Indonesia mencakup puskesmas, pustu, posyandu, dan klinik pratama.
  • Layanan primer berperan dalam pengobatan, pencegahan penyakit, dan penanganan kesehatan masyarakat, termasuk saat bencana.
  • CISDI melalui PN-PRIMA memperkuat layanan primer lewat peningkatan kapasitas kader, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan teknologi digital.

Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus lalu telah menyebabkan sedikitnya 135 orang meninggal, 1.762 orang mengalami luka-luka, dan puluhan ribu warga mengungsi. Gempa juga memicu kerusakan lebih dari 98 ribu unit rumah warga serta 165 puskesmas dan 12 rumah sakit umum daerah.


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sebanyak 34 puskesmas hancur akibat guncangan gempa. Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi NTT memperkirakan biaya pembangunan dan perbaikan kembali puskesmas mencapai Rp1,39 triliun.


Budi menekankan puskesmas yang rusak harus segera diperbaiki karena korban gempa tidak mungkin terus dirawat di dalam tenda-tenda pengungsian. Menurut Budi, layanan kesehatan primer seperti puskesmas memainkan peran krusial sebagai garda terdepan layanan kesehatan masyarakat saat terjadi bencana.


Apa Itu Layanan Kesehatan Primer

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), layanan kesehatan primer atau primary health care (PHC) adalah pendekatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk mengatur dan memperkuat sistem kesehatan nasional secara efektif, sehingga layanan kesehatan dan kesejahteraan bisa lebih dekat dengan masyarakat.


WHO menjelaskan ada tiga komponen utama yang perlu dilibatkan dalam menjalankan layanan kesehatan primer:


  1. Layanan kesehatan yang terintegrasi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat sepanjang hidup mereka.
  2. Mengatasi faktor-faktor yang lebih luas yang mempengaruhi kesehatan melalui kebijakan dan tindakan lintas sektor.
  3. Memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mengambil kendali atas kesehatan mereka sendiri.


Dalam kerangka tersebut, pelayanan kesehatan primer menjadi fondasi penting untuk mencapai cakupan kesehatan semesta (universal health coverage). WHO juga menekankan sistem kesehatan yang berorientasi pada layanan kesehatan primer perlu berpusat pada kebutuhan masyarakat dan sedekat mungkin dengan lingkungan tempat mereka menjalani kehidupan sehari-hari.


Ragam Layanan Kesehatan Primer di Indonesia

Indonesia memiliki fasilitas kesehatan primer yang hadir dalam berbagai bentuk. Setidaknya terdapat 10.337 puskesmas, 338.881 posyandu, 25.943 pustu, dan 14.564 klinik pratama yang tersebar di 38 provinsi. Berikut penjelasannya:


Puskesmas

Pusat kesehatan masyarakat atau akrab dikenal sebagai puskesmas adalah fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama yang menyediakan layananan kesehatan bagi masyarakat di tingkat wilayah. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat, puskesmas harus didirikan minimal di setiap kecamatan.


Mengacu regulasi yang sama, puskesmas menyelenggarakan layanan kesehatan yang mencakup upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan di wilayah kerjanya.


Dengan cakupan tersebut, puskesmas tidak hanya berperan dalam memberikan pengobatan, tetapi juga menjalankan berbagai upaya promotif dan preventif untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan masyarakat.


Puskesmas Pembantu (Pustu)

Puskesmas pembantu atau pustu merupakan unit layanan kesehatan yang berada di bawah puskesmas. Pustu biasanya didirikan di desa atau kelurahan untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan puskesmas.


Sebagai perpanjangan tangan puskesmas di tingkat desa atau kelurahan, pustu menjadi tempat rujukan pertama masyarakat desa sebelum ke puskesmas atau rumah sakit serta menjadi wadah pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan.


Selain itu, kehadiran pustu juga membantu masyarakat di kelurahan atau desa dalam mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan mereka. Karenanya, pustu bisa menjadi sarana deteksi dini masalah kesehatan di masyarakat desa atau kelurahan.


Posyandu

Pos pelayanan terpadu atau posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat. Posyandu bertujuan memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan dalam memperoleh layanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).


Dalam pelaksanaannya, posyandu melibatkan kader kesehatan dan tenaga kesehatan dalam memberikan beberapa layanan mulai dari pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan menyusui, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga pemberian imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal.


Klinik Pratama

Klinik pratama adalah fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menyediakan layanan medis dasar yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. 


Berbeda dengan puskesmas, klinik pratama umumnya milik swasta dan berfokus pada pelayanan kuratif perorangan. Adapun puskesmas adalah milik pemerintah dengan wilayah kerja yang ditentukan dan memiliki program kesehatan masyarakat yang lebih luas.


Dalam pelaksanaannya, klinik pratama memberikan layanan kesehatan mulai dari dokter umum, dokter gigi umum, tindakan sederhana, hingga administrasi rekam medis.


Layanan Kesehatan Primer sebagai Garda Terdepan Kesehatan

Di luar situasi bencana, sebagai fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama, puskesmas tidak hanya menyediakan layanan pengobatan, tetapi juga menjalankan berbagai upaya promotif dan preventif serta pemberdayaan kader kesehatan di wilayah kerjanya. Peran tersebut menjadikan puskesmas sebagai salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan primer di Indonesia.


Saat kondisi bencana, layanan kesehatan primer seperti puskesmas memiliki tanggung jawab dalam menangani korban luka, mencegah penularan penyakit di pengungsian, hingga memastikan obat-obatan tetap tersedia. Di Kabupaten Sikka, NTT, misalnya, Puskesmas Palue menjadi salah satu tumpuan utama masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan, termasuk menangani dan merujuk pasien korban gempa Flores beberapa waktu lalu.


Penguatan layanan kesehatan primer tidak cukup hanya dengan memastikan tersedianya fasilitas kesehatan. Kapasitas tenaga kesehatan, peran kader kesehatan, dukungan pemerintah daerah, serta keterlibatan masyarakat juga menentukan apakah layanan kesehatan bisa menjangkau mereka yang membutuhkan.


Sejak 2012, CISDI telah bergerak dalam upaya penguatan layanan kesehatan primer melalui Pencerah Nusantara. Program ini berfokus pada penguatan layanan kesehatan primer dan mendorong puskesmas bekerja lebih dekat dengan komunitas.


Sepanjang perjalanannya, Pencerah Nusantara telah mengalami beberapa bentuk transformasi utama. Sejak 2022, Pencerah Nusantara bertransformasi menjadi Pencerah Nusantara: Puskesmas Responsif, Inklusif, Masyarakat Aktif Bermakna (PN-PRIMA). Berlokasi di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, PN-PRIMA berfokus pada penguatan layanan yang memadukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader kesehatan dengan pendekatan berbasis komunitas serta dukungan teknologi digital.


Pada 2024, PN-PRIMA telah berjalan di 12 puskesmas dengan fokus pada kesehatan ibu dan anak, penyakit tidak menular, perbaikan gizi balita, dan imunisasi baduta. Dalam program tersebut, kader kesehatan menjadi fokus dari penguatan layanan karena berperan menjembatani puskesmas dengan masyarakat di tingkat komunitas.


Melalui PN-PRIMA, CISDI bersama puskesmas telah meningkatkan kapasitas 465 kader PRIMA di 38 posyandu yang didampingi. Kader kesehatan mendapatkan penguatan melalui pelatihan dan pendampingan untuk mendukung deteksi dini serta pendampingan kelompok yang membutuhkan perhatian, termasuk balita dengan masalah gizi hingga masyarakat dengan penyakit tidak menular.


Peran tersebut kemudian diterjemahkan kedalam berbagai inisiatif kesehatan berbasis masyarakat. Sedikitnya 60 inisiatif telah dilakukan di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi, termasuk kegiatan jemput bola untuk edukasi imunisasi dan gizi dari rumah ke rumah.


Penguatan tersebut juga didukung dengan pemanfaatan teknologi digital. Bersama mitra, CISDI mengembangkan aplikasi Pencerah Nusantara, termasuk modul PN-PRIMA, sebagai alat pendukung bagi tenaga kesehatan dan kader kesehatan dalam menjalankan layanan di tingkat komunitas.


Aplikasi ini membantu menyediakan informasi secara terstruktur, mendukung identifikasi risiko kesehatan secara lebih dini, serta memberikan panduan mengenai tindak lanjut yang perlu dilakukan. Di Puskesmas Sukmajaya, Kota Depok, misalnya, aplikasi digunakan untuk membantu memantau pertumbuhan dan balita, dengan 400 anak tercatat sedang dalam pemantauan pada Januari 2026.


Pengalaman CISDI melalui PN-PRIMA memperlihatkan layanan kesehatan primer yang kuat tidak dapat berdiri sendiri. Penguatan layanan kesehatan primer perlu berjalan bersama dengan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader kesehatan, dukungan teknologi, serta keterlibatan masyarakat agar layanan kesehatan bisa hadir lebih dekat dengan kebutuhan warga.


Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kerja CISDI di bidang penguatan layanan kesehatan primer, bisa cek tautan berikut.


-SELESAI-


Terbaru