
Siaran Pers
Krisis Iklim Sudah di Ambang Pintu, CISDI Dorong Perbaikan Kebijakan
CISDI Secretariat • 28 Okt 2026
Jakarta, 29 Oktober 2026 – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menyelenggarakan diskusi publik daring dengan tajuk “Bertahan dan Bergerak di Tengah Kepungan Polusi: Membangun Sistem yang Melindungi Masyarakat dari Polusi dan Krisis Iklim” di Jakarta. Diskusi ini mempertemukan komunitas, peneliti, hingga eco-lifestyle advocate untuk membahas keterkaitan dampak polusi udara akibat krisis iklim serta mendorong solusi konkret di level komunitas maupun kebijakan.
Kemarau dan kekeringan ekstrem telah melanda Indonesia dan salah satu penyebabnya adalah fenomena super El-Nino. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut pada Oktober 2026 tercatat suhu ekstrem tertinggi di Indonesia mencapai 38,2 derajat Celcius.
Urban and Health Environmental Lead CISDI Wisya Aulia Prayudi mengatakan, masyarakat dunia kini tengah menghadapi dampak krisis iklim yang diperparah dengan fenomena super El-Nino. “Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) 2021 menyebutkan kenaikan suhu global dan anomali cuaca ekstrem telah memicu berbagai bencana hidrometeorologi. Selain itu, UNICEF pada 2021 mencatat Indonesia menempati posisi ke-46 sebagai salah satu negara dengan risiko tinggi akibat krisis iklim,” ujar Wisya.
Wisya menambahkan krisis iklim juga mengancam kesehatan akibat menurunnya kualitas udara dan meningkatnya polusi udara di wilayah urban. “Kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, hingga anak-anak berisiko terkena infeksi saluran pernapasan akut, asma, hingga penyakit kardiovaskular akibat terpapar partikel polutan-polutan halus,” ucapnya.
Dalam diskusi publik kali ini, CISDI mendorong perbaikan sistem melalui kebijakan komprehensif lintas sektor untuk melindungi masyarakat dari dampak polusi udara. Selain menghadirkan peneliti, diskusi juga mengangkat pengalaman komunitas orang tua dan anak tinggal di lingkungan terpapar polusi udara.
Direktur Keluarga Kita, Siti Nur Andini, mengatakan, lingkungan yang aman, inklusif, dengan kualitas udara baik bisa dimunculkan kembali bagi warga urban, seperti Jakarta dan kota-kota lain, asalkan pemerintah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki kualitas udara dan menurunkan polusi semaksimal mungkin.
“Kualitas udara yang buruk meningkatkan kekhawatiran orang tua, baik terhadap dirinya dan terlebih anak-anaknya sehingga dapat mempengaruhi hubungan dalam keluarga. Orang tua yang kesulitan mengelola rasa khawatirnya cenderung memberikan respons yang kontraproduktif dan justru menghambat dukungan bagi pengembangan potensi dan kompetensi anak yang nantinya bakal mempengaruhi masa depan bangsa,” ujar Andini.
Andini menambahkan, tingginya polusi udara perkotaan juga menyebabkan masyarakat merasa tidak aman beraktivitas di ruang terbuka. Akibatnya, keluarga di wilayah urban terimpit beban ekonomi tambahan akibat pengeluaran tak terduga untuk pengobatan hingga alat penyaring udara.
Sementara itu, peneliti Resilience Development Initiative (RDI) William Diondi Parasian Harahap menjelaskan masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk kawasan industri dan daerah rawan kebakaran lahan, menghadapi risiko polusi udara yang tinggi. Karenanya, kebijakan dan penanganan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah mutlak diperlukan.
“Untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang tangguh terhadap krisis iklim, dibutuhkan keterlibatan dan kolaborasi dari semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, maupun masyarakat secara luas,” ujarnya.
William menambahkan, risiko iklim perlu diintegrasikan dalam setiap tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, dengan memperhatikan seluruh aspek, baik aspek fisik dan tata ruang, sosial, dan tata kelola, termasuk perlindungan kelompok rentan.
“Pada akhirnya, upaya membangun ketahanan iklim tidak boleh hanya bergantung pada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi, tetapi juga harus didukung oleh sistem perkotaan yang lebih tangguh, inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan,” kata William.
Ketika Indonesia sedang dilanda berbagai bencana hidrometeorologi akibat krisis iklim, kreator konten ramah lingkungan Novia Arifin (Cerita Nupi) membagikan cara memperkuat resiliensi masyarakat dalam menghadapi penurunan kualitas lingkungan.
“Kita bisa berusaha memilih makanan bergizi, tetapi untuk urusan bernapas, kita tidak bisa memilih udara yang kita hirup. Bernapas adalah kebutuhan dasar, dan udara bersih seharusnya menjadi hak setiap warga, bukan sesuatu yang hanya bisa diakses oleh sebagian orang yang memiliki privilese tertentu,” kata Novia.
Menurut Novia, masyarakat tidak seharusnya terus dibebani tanggung jawab untuk melindungi diri dari polusi tanpa upaya serius untuk mengatasi sumber pencemarnya. Ia menuturkan, masyarakat membutuhkan transparansi data kualitas udara, sistem transportasi publik yang terintegrasi dan terjangkau, serta transisi energi bersih, mengingat penduduk Jabodetabek dikepung oleh PLTU batu bara di Jawa Barat dan Banten. “Jika ada inisiatif elektrifikasi, sumber listriknya juga harus berasal dari energi bersih terbarukan dan minim emisi. Solidaritas komunitas memang penting, tetapi tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan. Kita berhak mengetahui udara yang kita hirup dan menuntut lingkungan yang sehat,” imbuhnya.
Pada penutup diskusi, Wisya menyampaikan resiliensi di tengah krisis iklim tidak bisa hanya dibebankan ke masyarakat. Pemerintah juga perlu hadir, salah satunya dengan mendorong pendekatan “Urban Climate Governance”.
“Pendekatan ini mendorong kolaborasi multisektor dengan kebijakan yang terintegrasi, mulai dari perancangan, pengelolaan, hingga pengembangan kota. Sehingga, pendekatan ini bisa mengutamakan perlindungan dan pelibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakannya,” tutup Wisya.
-SELESAI-
Tentang CISDI
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah pusat kepakaran yang bertujuan memajukan pembangunan sektor kesehatan dan penguatan sistem kesehatan melalui kebijakan berbasis dampak, riset, advokasi, dan intervensi inovatif yang inklusif dan partisipatif.
Informasi lebih lanjut
Tim Media CISDI
0851-1139-0040
Email: [email protected]
.png)